Minggu, 24 Februari 2013

Kerusakan Jalan Abadi Jalur Pantai Selatan Purworejo


Inilah potret kondisi jalan di jalur pantai selatan Purworejo, Jawa Tengah. Saya tertarik untuk menulis ini karena sudah sekian lama jalan ini dibiarkan hancur digerus oleh cuaca dan tentunya kendaraan-kendaan yang lewat. Sejak kelas lima SD saya sudah lewat jalan ini karena memang lebih cepat dibandingkan dengan lewat jalur utara yang memutar. Namun kini menjadi hampir sama lamanya waktu tempuh karena jalanan yang semakin hancur. Sebenarnya sudah ada upaya penambalan jalan, namun karena kontur jalan yang sudah hancur sehingga tidak bisa rata dan tambalan tidak bisa menyatu dengan baik, sehingga hanya perlu waktu dua bulan untuk hancur lagi. Bagaimana tidak karena 95% sudah tambalan, sementara 75% sudah kembali berlubang, karena memang tidak ada perbaikan total.


Padahal setiap hari lewat puluhan bahkan ratusan mobil-mobil mewah, namun terpaksa harus pintar-pintar menghindari lubang yang ada dimana-mana sehingga hanya bisa memacu kecepatan rata-rata 20-30 km/jam. Kerusakan semakin parah dan membahayakan ketika turun hujan, karena lubang-lubang menjadi tidak kelihatan karena tertutup air. 

Sebenarnya banyak potensi yang bisa dikembangkan disepanjang jalur ini, karena dekat dengan pantai hanya sekitar 500 meter sampai 1 kilometer saja , dan otomatis akan sangat menrik ketika pengguna jalan mampir sejenak untuk berwisata atau sekedar istirahat, sehingga akan menambah penghasilan masyarakat. Namun dengan kondisi jalan yang rusak parah ini, amaka pengendara enggan untuk berhenti dan ingin cepat-cepat untuk keluar dari jalan yang rusak itu.


Karena benar saja dibagian barat sebelum emasuki kebumen, banyak sekali pedagang-pedagang dan warung-warung makan dan penjual buah-buahan di pinggir jalan, namun pengendara enggan untuk berhenti, karena setelah berhenti akan malas untuk melanjutkan perjalanan melihat kondisi jalan yang rusak parah.

Bisa dibayangkan hilangnya potensi pendapatan masyarakat dan daerah itu sendiri karena rusaknya jalan sebagai infrasturktur terpenting daerah. Ditambah dengan kerugian pengguna jalan karena lamanya waktu tempuh, kerusakan kendaraan seperti pecah ban, patah as roda, dan kerusakan bagian-bagian kendaraan karena goncangan-goncangan kendaraan. Ini saya amati sendiri karena setidaknya sebulan sekali saya melewati ajalan ini dan sering melihat kendaraan yang parkir di pinggir jalan dengan kondisi didongkrak dan ban sudah dilepas atau truk yang patah as rodanya.

Yang menjadi keheranan saya adalah kondisi ini sudah berlangsung sejak jaman saya kelas lima SD, dan sekarang sudah di perguruan tinggi semester empat. Berarti sudah sekitar 10 tahunan. Padahal tidak ada perbedaan pembayaran pajak kendaraan antara daerah desa itu dengan perkotaan, sehingga otomatis penduduk desa di sekitar atau sepanjang jalan itu membayar pajak kendaraan yang sama namun menikmati kondisi jalan yang tidak layak dengan yang ada di kota, dan saya heran apakan pemerintah desa setempat tidak pernah melapor tentang kondisi jalan di daerahanya, atau mungkin pemda kabupaten melihat kondisi ini dengan pengecekan jalan oleh dinas PU.

Kita lihat saja apakah akan ada perubahan yang baik di tahun anggaran 2013 ini, atau mungkin tahun berikutnya saya akan menulis lagi tentang topik ini, Karena sudah banyak keluhan yang terdengar dari banyak penggunan jalan, namun mereka hanyalah tamu yang numpang lewat yang merasa tidak nyaman dengan pelayanan di daerah ini. Begitu juga dengan saya sendiri, karena memang sangat membuat emosi ketika kita lewat dan badan dijamin pegel-pegel karena harus berkendara seperti di jalur off road atau jalan uji SIM.



Artikel menarik lainnya :

2 komentar:

  1. Betul sekali mas, jalur selatan selatan jawa tengah ini memang sangat cepat ketika jalan mungkin jalan beraspal mulus...
    Ini mungkin kewajiban dari pemda masing2 kabupaten yang dilewati untuk segera melayangkan permohonan ke provinsi jawa tengah...

    BalasHapus
  2. widih, enak nih buat jalur off road, punya 4x4 tapi tinggal di jalan yang bebas bolong rasanya gatel juga.

    BalasHapus