Minggu, 05 Januari 2014

Ketika Ke-objektifan Media Dipertanyakan

gambar dari jambidaily.com

Dalam UU per No 40 tahun 1999 pasal 3 ayat 1 disebutkan bahwa pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Memang pada intinya pers memberikan kita informasi, dan seringkali disajikan dalam bentuk yang lebih menarik dan menghibur, tujuannya adalah tidak lain utnuk menarik minat pemirsa, pendengar, dan pembaca. 

Sedangkan pada pasal 4 disebutkan kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara, barangkali ini yang menjadikan pers semakin liberal, dan seringkali lewat berbagai media pers cenderung memihak untuk kepentingan segelintir orang dalam organisasi pers itu. Seudah bukan rahasia umum lagi, pers semakin berkembang lewat berbagai cara, mulai dari cetak, media visual bergerak (TV), media sosial, dan sebagainya.

Namun seiring berkembangnya waktu, kelompok pemilik pers mempunyai kepetingan lain, terutama kepentingan politik. Masyarakat mulai melihat ini, ini dilihat di media sosial yang mana disitu pers menyebarkan beritanya lewat media sosial dan masyarakat pun bebas berkomentar tentang berita itu. Kebanyakan dari mereka sudah mempertanyakan apakah berita itu sudah objektif atau kah ada unsur kepentingan dan konspirasi, terutama konspirasi politik untuk mendapatkanj kekuasaan di pemerintahan.


Ada beberapa kecenderungan yang sering ditampilkan pers kita sudah lama belakangan ini. Yaitu kecenderungan untuk para tokoh petinggi organisasi pers atau pun pengusaha pers yang mulai masuk kancah politik. Entah apa maksud dari itu semua yang jelas kita berprasangka baik dulu bahwa mereka ingin mengabdi membangun bangsa. Namun semakin lama dilihat, cara mereka membangun nama di masyarakat cenderung kurang pantas. Dengan kekuatan pers nya mereka seolah mempunyai kekuatan lebih, dan seakan gencar membentuk mindset di masyarakat yang baik. Namun masalahnya adalah apa yang mereka tampilkan adalah sekumpulan kata-kata manis yang semua orang pasti tau, bahwa korupsi itu tidak baik, pendidikan itu penting dan sebagainya.

Cara lain adalah dengan modus kuis, kekuatan media yang mereka miliki memang memberikan kekuatan lebih untuk mengenalkan mereka di masyarakat. Namun masyarakat bertanya, apakah dengan kepentingan mereka, kelompok mereka, partai mereka dan apapun itu, tidak mempengaruhi keobjektifan media itu dalam menyampaikan informasi??

Bahkan dalam tokoh yang tampil di beberapa media itu pun berkeluh kesah tentang tindak tanduk media yang seolah memihak kelompok politik yang menaunginya. Beberapa mereka (tidak sebut nama), merasa ada diskriminasi tentang pemberitaan media yang cenderung menyudutkan kelompok lain ketika partai atau kelompoknya ada masalah, dan sebagainya, mungkin juga hal ini berlaku di media lain, entahlah.

Isu yang cukup mengagetkan adalah dengan satu artikel yang ditulis salah seorang mantan wartawan sebuah media besar di tanah air, yang mana ia menceritakan tentang kekecewaanya setelah ia masuk menjadi wartawan di sebuah media dan akhirnya dia mengundurkan diri. Ini sedikit yang ia tulis di media sosial nya, ia prihatin dengan media sekarang ini, yang mana uang dan kepentingan politik menjadi makanan sehari-hari media. Bahkan beriat menjadi bahan jual beli, yang mau bayar akan diberitakan baik, yang tidak bisa bayar akan jadi korbannya.

Memprihatinkan memang, dan ia juga menceritakan bahwa sebuah media besar yang tadinya ia kagumi, ternyata ikut bermain dalam transaksi berita ini bahkan melakukan tindakan pemerasan dengan modus jika tidak mau membayar ke media itu sebanyak rupiah tertentu, maka media itu akan membeberkan semua keburukan dari tokoh atau kelompok itu dalam kasus yang dialaminya.

Saya sendiri pun bukan pendukung fanatik media, atau partai apa pun lah itu. Yang jelas masyarakat kini lebih pintar melihat, mana yang sekiranya baik dan yang sekiranya buruk, terlepas dari apa yang sebenarnya mereka (media dan tokohnya) inginkan. Tapi sejatinya jika mereka ingin benar-benar memimpin bangsa ini dengan tulus, mereka seharusnya menggunakan cara yang fair, dan tidak saling menjatuhkan atau memuji-muji kelompoknya atau tokohnya.

Memang baik jika masih ada tokoh-tokoh yang peduli dengan bangsa ini yang ingin mencalonkan diri memimpin bangsa ini menuju yang lebih baik. Tapi masyarakat akan memantau perjalanan mereka, apalagi perjalanan pemerintahan sekarang. Karena kepercayaan rakyat kepada pemimpin semakin memburuk dengan adanya berbagai kasus yang menjerat para pemimpin dan wakil rakyat.


Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar