Minggu, 19 Januari 2014

Optimis, Pesimis dan Realistis



Tiga kata yang berbeda, namun dengan akhiran yang sama dalam pengucapannya. Optimis, Pesimis dan Realistis, ketiganya meruapakan sebuah sikap dalam menghadapi suatu hal atau bahkan rencana besar. Seseorang akan cenderung optimis dengan rencananya ketika ia yakin ia mempunyai sesuatu untuk mewujudkannya, tetapi disisi lain ada orang yang pesimis akan suatu hal, entah karena keterbatasannya atau karena hal lain. Namun keduanya ada pengukurnya, pengukur suatu harapan, suatu rencana dan suatu impian, ialah bernama "realistis".

Kembali lagi pada akhir yang sama, apakah dengan akhir pengucapan yang sama juga berarti suatu rencana baik itu dengan pesimis atau pun optimis akan menghasilkan akhir cerita yang sama, tentu jawabannya tidak. Entah dengan pesimis, entah dengan optimis, dan atau pun dengan realistis, mungkin itu hanya cara kita menghadapi sesuatu. 

Sekarang bagaimana jika kita gabungkan antara realistis dan optimis, atau antara pesimis dan realistis? Seringkali kita tidak tau apakah kita pesimis atau kah kita realistis. Kalau menurut pandangan saya, realistis adalah ketika kita benar-benar menimbang dan memikirkan segala sustu kemungkinan hal yang akan terjadi jika kita melakukan suatu hal, sedangkan pesimis saya artikan ketika kita belum memikirkan segala kemungkinan itu lalu kita merasa hal itu tidak mungkin terjadi atau tercapai. 

Kembali ke realistis, realistis pada akhirnya akan membawa dua hasil, yaitu antara pesimis atau optimis. Tapi seringkali hasil dari berfikir realistis akan membawa kepada keputusan yang cenderung ke pesimis, tentunya karena seorang manusia yang dikodratkan untuk tidak sombong, tidak takabur dan lain sebagainya. Namun saya sendiri juga kadang bingung, apakah yang saya pikirkan adalah realistis, atau malah justru rasa pesimis.

Rasa optimis memang bagus, tetapi seringkali rasa optimis yang tidak didasari pemikiran yang realistis akan berakibat pada kekecewaan atau kekalahan. Tapi apakah disini pesimis itu selalu buruk?? Kalua menurut saya tidak, karena bagaimanapun hebatnya kita, kita mempunyai kekurangan dalam beberapa hal, dan yang menyadarkan kita adalah rasa realistis itu. Dan kekurangan itu akan diingatkan oleh rasa pesimis, agar kita membatasi diri akan suatu hal yang tidak mungkin kita capai. 

Jadi kalau saya berkesimpulan, optimis, realistis dan pesimis semuanya bagus, hanya saja bagaimana kita menggunakannya untuk berbagai situasi, kapan harus optimis, kapan harus pesimis, dan kapan kita harus realistis. Tujuannya kembali untuk kebaikan diri kita, kita butuh rasa optimis ketika hal itu memang mungkin untuk kita dapatkan atau kita capai, dan optimislah sebagai penyemangat. Sedangkan kita butuh pesimis sebagai batasan tindakan kita, untuk menjaga diri kita dari kekecewaan atau depresi yang besar. Dan disni juga ada realistis, sesuatu yang dengan analisisnya menuntun diri kita untuk memutuskan suatu hal berdasarkan perhitungan yang matang. 

Tapi tentu saja kita harus merasakan ktiganya, dan sudah seharusnya mengutamakan optimis, karena optimis akan meberikan keberanian, sekalipun terdapat kegagalan di depan, kita akan mendapat guru baru yang bernama "Profesor Gagal", ialah guru yang sering kali dibenci, karena cara mengajarnya yang keras dan tegas.


Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar