Senin, 03 Februari 2014

Kisah Sebungkus Nasi


Matahari mulai beranjak turun di sore itu. Lalu lalang kendaraan semakin ramai seriring orang-orang pulang dari kantornya. Jalanan macet, padat dan penuh polusi, seperti itulah kira-kira gambaran di kota yang padat ini. Diperempatan lampu lalu lintas terlihat beberapa pengemis yang masih sibuk meminta belas kasihan para pengendara yang lewat. Beberapa lagi memilih pulang, yang aku pun tak tau kemana mereka pulang.



Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, aku pun bergegas memacu sepeda motorku untuk pulang. Tapi sejenak perhatianku tertuju pada seorang ibu dengan tiga anaknya yang saya rasa masih SD, dan seorang anaknya yang masih kecil yang ada dalam gendongannya. Saya berhenti sejenak. Suasana disini cukup ramai, banyak warung makan dadakan yang buka sore itu dengan berbagai menu makanan dari gorengan sampai bakar-bakaran. Tukang parkir pun masih semangat meniup peluitnya mengatur kendaraan yang hendak parkir dan hendak meninggalkan tempat itu. “prit prit priittt…” dengan keras suara peluit itu menambah suasana keramaian sore itu bercampur dengan suara bising kendaraan dan suara klakson mobil-mobil yang lewat berebut untuk lewat.

Si penjual makanan di warung pun nampak gembira dengan ramainya pelanggannya, sambil mengayunkan kipas membakar beberapa ikan dan beberapa potong daging ayam. Para pengunjung bercengkrama dengan teman-temannya sambil tertawa lepas, entah apa yang mereka bicarakan, siapa peduli.

Kembali ke ibu tiga anak tadi, ibu tadi berjalan ke satu pojokan tempat di situ, tepatnya di sebuah tiang penyangga jembatan layang, diantara warung-warung tadi. Tak lama mereka duduk, anaknya masih Nampak ceria, walau ada sedikit wajah kelelahan. Ibu tadi membuka bungkusan dalam kresek itu, rupanya bungkusan itu adalah sebungkus nasi dengan lauk dan sayur di dalamnya. Dengan segera anak-anaknya itu menyantap makanan itu dengan lahap, hanya sebungkus dan untuk bertiga. Lalu apakah ibu tadi sudah makan? Entahlah.

Mungkin itu yang disebut pengorbanan si ibu, demi anak-anaknya seorang ibu kadang memilih untuk mengalah. Karena mungkin bagi ibu itu kebahagiaan anaknya adalah segalanya, walau hanya dengan melihat anaknya makan hari itu. Hari itu member pelajaran lagi bagi saya pribadi, atau mungkin bagi mereka yang lain yang melihatnya. Kalau disana masih banyak orang yang masih kurang beruntung dari kita. Seperti sebuah pukulan telak yang mengenai dada yang membuat sesak dada, selama ini kita mungkin sering mengeluh dengan kekurangan, tetapi disana masih ada yang hidupnya serba kekurangan, tetapi masih bisa tersenyum bahagia dengan apa yang mereka dapat. Iya mungkin inilah rasanya malu dengan diri sendiri. Tak lama setelah itu hari semakin gelap, suara adzan pun berkumandang menandakan waktu magrib telah tiba. Perjalanan pulang aku lanjutkan, dengan beberapa hal yang muncul dalam pikiran.




Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar