Selasa, 25 Maret 2014

Manisnya Janji Politik

Berbagai persoalan bangsa yang selama ini terjadi tentunya memang membawa angin harapan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Sebuah momentum pun datang yaitu dengan digelarnya pemilu legislatif dan pemilu presiden, yang mana rakyat mempunyai setitik cahaya terang akan angin perubahan yang dijanjikan berbagai parpol dengan berbagai kader dan caleg-nya. Memang bagus masih banyak orang yang peduli akan perubahan dengan menawarkan dirinya menjadi abdi masyarakat, tetapi yang menjadi masalah adalah ketika janji itu terkesan kurang realistis bahkan cenderung mengarah tidak mungkin.

gambar : republika.co.id


BErbagai janji yang lalu lalang di berbagai media memang smestinya kita cermati apakah janji itu relevan dengan kondisi yang ada saat ini, atau jangan-jangan janji itu hanya janji palsu yang tidak berdasar, hanya sebuah retorika yang manis dan ideologis tapi mustahil direalisasikan, atau kalau pun direalisasikan, maka akan menimbulkan masalah baru. Janji-janji yang sering terdengar biasanya berbagai program kesejahteraan rakyat, mulai dari pendidikan, kesehatan dan lain-lainnya. Mereka menawarkan berbagai kompensasi, dari jutaan sampai miliaran rupiah. berbagai santunan dan lainnya. Memang bagus dari sisi rakyat, tapi bagaimana dari sisi negara sendiri? Seperti yang diketahui negara masih terbelit banyak hutang, dan juga masalah defisit neraca berjalan, yang berarti negara masih dalam masalah krisis pembiayaan dan pendapatan.

Kembali lagi ke masalah janji politik, jika berbagai kompensasi ini dijalanakan para calon pemimpin yang kelak benar-benar memimpin, apakah mungkin ini dijalankan? jika iya, darimana uanganya? Seperti yang kita ketahui pemerintah sudah mulai kewalahan dengan subsidi BBM dan subsidi energi lainnya, kurang lebih Rp 300 Triliun rupiah untuk subsidi BBM di Indonesia dan pemerintah sedang berfikir bagaimana mengurangi beban subsidi ini. Dengan janji yang ditawarkan beberapa calon pemimpin yang katanya akan membuat harga-harga barang kebutuhan pokok dan terutama harga BBM menjadi lebih murah, maka perlu dipertanyakan bagaimana caranya. Memang bagus jika harga-harga murah, tetapi apa konsekuensinya? terutama dengan BBM, harga BBM di Indonesia terbilang paling murah di kawasan Asia Tenggara karena ditopang subsidi, padahal negara lain sudah mulai memotong subsidi sehingga bisa memperbaiki keuangan negara.

Berbicara politik memang tidak bisa terpisah dengan kebijakan, kesejahteraan, dan kekuasaan, serta uang. Memang tujuan manusia dan terutama negara adalah mensejahterakan rakyat. Tapi disisi lain rakyat tidak bisa hanya meminta kesejahteraan dari negara, rakyat juga harus mensejahterakan negara. Kita sudah melihat bagaimana rakyat itu sudah sangat lelah dengan berbagai drama politik, mulai dari korupsi, suap, dna sebagainya. Seolah ada suasana yang membuat rakyat memandang bahwa politik adalah tempat mencari kekuasaan dan kekayaan. Padahal tujuan politik yang semestinya adalah baik, mengatur, dan melayani kepentingan rakyat banyak.

Sipapapun pemimpinnya nanti semoga ia selalu melihat ke bawah, bagaimana yang rakyat inginkan. Jangan sampai ia terjebak dengan ambisi dan mengumbar janji tapi ia sendiri tidak tau bagaimana menepati janji-janjinya. Semoga juga rakyat semakin pintar membedakan mana yang janji realistis dan mana janji-janji yang hanya manis saat kampanye dan dilupakan saat sudah memegang jabatan. Persoalan negeri ini memang sudah sangat kompleks, dan perlu ada perubahan yang segera. Untuk membangun yang lebih baik. Pasti masih ada harapan menjadikan negara ini lebih baik, karena jika tidak, dan semua dari mereka sudah tidak ada lagi niatan yang baik, maka rakyat Indonesia hanya diberikan pilihan untuk memilih yang "buruk" dari yang "terburuk".


Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar