Minggu, 23 Maret 2014

Menimba Nilai-nilai Luhur Peradaban Manusia di Kraton Yogyakarta


Usut punya usut hari itu ada teman dari anak sejarah yang akan mewawancarai sumber sejarah yaitu salah satu abdi dalem kraton. Karena kebetulan pada libur akhir pekan jadinya sekalian jalan-jalan ke dalam Kraton. Di akhir pekan bisanya memang diadakan pertunjukan di dalam kraton karena memang di akhir pekan cukup ramai pengunjung, mulai dari siswa SD sampai SMA, dan bahkan turis-turis dari berbagai negara yang datang.




Tiket masuk terbilang cukup murah, hanya Rp 5.000 saja untuk wisatawan lokal, ditambah dengan tiket kamera Rp 1.000 jika masuk dengan membawa kamera. Setelah beres dengan membeli tiket akhirnya kami masuk, ini memang kali kedua saya masuk kraton, tetapi yang pertama kurang begitu menikmati karena sekaligus menjadi pendamping anak-anak SMA saat ada acara di kampus. 

Memasuki daerah Kraton kami disambut dengan pertunjukkan wayang kulit. Beberapa turis juga desang menyaksikan dengan muka seperti kebingungan atau mungkin terheran, atau mungkin kagum. Entahlah, yang pasti mereka tidak tau apa yang diucapkan oleh sang dalang, tapi mereka cukup menikmati. Ada yang duduk seksama di tempat duduk yang disediakan, ada juga yang sibuk mengambil gambar, dan ada lagi yang seksama menyaksikan dari dekat para penabuh gamelan.




Siang yang amat panas hari itu seolah menjadi tenang dan tentram dengan lantunam gending-gending jawa, dengan harmonisasi berbagai jenis gamelan dan suka suara sang sinden yang saling bersahutan deangan merdunya. Memang ada suasana yang lain ketika kita mendengarkan gamelan dengan segenap pertunjukannya, ada nuansa yang berbeda. Ada suasana keharmonisan dan ketentramana ketika mendengarkan musik kebanggaan budaya Jawa yang satu ini. banyak turis yang juga menikmati pertunjukan ini, seolah terbawa dalam kedaian suasana dari alunan musik ini.




Yang menarik lagi adalah semua abdi dalem dan para pemain gamelan dan dalangnya mengenakan seragam berwarna biru, dan saya yakin ini ada filosofinya, hanya yang dikatakan salah satu abdi dalem Kraton yang jelas tidak boleh memakai warna hijau atau warna merah. Karena warna hijau adalah warna kebesaran Nyi Roro Kidul, dan warna merah adalah warna yang dianggap kurang sopan atau berani (menantang). Tentu saja dengan kelengkapan Blangkon dan jarit ( bawahan ) dan keris yang terselip di pinggang belakang untuk orang dewasa.


Suasana berbau kental dengan budaya sangat terasa dan masih sangat terjaga disini, salah satu abdi dalem Kraton mengatakan hal ini adalah kebanggaan mereka, "Inilah busaya kita, budaya yang wajib kita jaga dan kita banggakan, dan kami juga menanamkan hal ini muali dari anak-anak kami", seperti itulah kurang lebih yang beliau katakan. Jika melihat lebih dalam, ini memang lebih dari sekedar budaya, ada unsur kesakralan di dalamnya, penuh dengan norma dan adat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan. Inilah kenapa orang Jawa harus bangga dengan budayanya, dan umumnya Indonesia. Inilah yang membuat orang dari berbagi belahan dunia ingin melihat lebih dekat bidaya ini, bahkan mempelajarinya.

Kami mengambil pelajaran bahwa sesungguhnya kita mempunyai budaya yang sangat agung, penuh dengan norma kemanusiaan, tata kehidupan yang menjunjung nilai-nilai kehidupan, dan bagaimana cara menghormati sesama. Jika ke Yogyakarta maka sempatkanlah berkunjung ke Kraton Yogyakarta. tempat dimana peradaban tentang manusia yang luhur tetap dilestarikan di dalamnya.




Artikel menarik lainnya :

1 komentar: