Selasa, 29 April 2014

Rakyat Melek Politik, Si Calon pun Panik

Tidak bisa dipungkiri semakin cerdasnya rakyat dalam memilih para calon pemimpin mau tidak mau harus membuat para calon pemimpin berputar otak dua kali untuk merebut simpati rakyat. Tapi rakyat sudab mulai melek informasi, meskipun tidak bisa dipungiri masih banyak pendukung fanatik yang tidak terpengaruh informasi apa pun sekali pun itu tentang track record sang calon. Media kini pun menjadi alat andalan para calon, apalagi bila media itu adalah milik sanh calon atau setidaknya ada keberpihakan.

Fenomena rakyat yang semakin sadar politik sangat terlihat dari mulai gerahnya rakyat dengan media yang memihak salah satu calon atau golongan tertentu. Misalkan saja dalam fanspage suatu media pers, yanh mana setiap oranh bisa mmberikan komentar atau opinnya terkait berita itu. Kalau saya amati, banyak komentar-komentar yang lucu, penuh sindiran politik, atau bahkan kadang malah terkesan tidak percaya lagi dengan media itu.

Untuk mengakalinya, nampaknya sang calon punya variasi lain, yaitu dengan menampulkan dirinya di tv tidak dengan secara lansung berkampanye, tetapi dengan acara atau berkedok kepentingan lain yang intinya menunjukkan eksstensi dirinya berharap agar rakyat melihatnya dan bersimpati padanya. Tetapi hal itu justru terlampau serin dilakukan dan membuat saya pribadi bosan dan muak dengan tampilnya acara-acara dan iklan-iklan semacam itu.

Kalau kita lihat lagi dalam komentar-komentar di fanspage media pers di jejaring sosial, nampaknya kita perlu khawatir. Bagaimana ketika rakyat semakin apatis dengan politik yang terkesan bermain taktik dan persaingan yang tidak sehat. Logikanya jika perolehan kekuasaan dilakukan demgan cara yang tidak fair, maka pasti ada indikasi buruk selama jalannya pemerintahan. Namun memang kembali pada rakyat yanb harus semakin cerdas dan jeli memilih sosok yang jujur dan amanah. Karena mau tidak mau memang rakyat harus semakin melek politik, aga tidak dijadikan bahan atau komoditas yang suaranya bisa dikendalikan atau opininya bisa dibuat sedemkian rupa dengan pencitraan atau dengan kampanye hitam yang menjatuhkan slah satu tokoh calon atau kelompok calon.

Saya memang bukan orang politik, tapi setiap hari disuguhi berita politik dan berbagai perdebatan di sosial media membuag saya tergelitik untuk semakin mengikuti isu-isu yang terjadi. Jika kembali lagi pada media yang tidak objektif lagi, maka setelah dan sebelum atau terpilih atau tidak terpilihnya tokoh yang didukung media pers tertentu tadi, tentu saja jika calonnya kalah, maka dimungkinkan beritanya akan bermuatan negatif tentang penguasa yang menjadi pemenang tadi. Tapi bila calon dukungannya yang menang, mungkin ceritanya akan lain, akan banyak berita baik tentang pemimpin yang memang didukung atau karena si pemilik media ini. Hal ini mulai terlihat tahun tahun terakhir ini, terutama menjelang pemilihan. Namun apakah berita yang baik-baik ini memang benar adanya atau dilebih-lebihkan?? Atau apakah itu hanya modus untuk menutupi kekurangan?? Jadi kita sekali lagi perlu khawatir dengan media pers semacam ini. 


Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar