Rabu, 17 Desember 2014

Radio Pemecah Keheningan Malam

Malam terasa sepi sekali. Memang belum ada listrik di desa itu. Lampu-lampu teplok dari minyak tanah menjadi andalan penerangan di kala malam, Malam biasa sangat sunyi, warga desa memilih untuk beristirahat di dalam rumah. Hanya saat bulan purnama saja, atau saat bulan menyinari saja, baru para penduduk desa itu keluar rumah saat mala. Hanya untuk sekedar bercengkrama atau untuk berkumpul dan menganyam tikar bersama-sama. Tikar yang terbuat dari daun pandan memang masih menjadi andalan untuk menopang ekonomi keluarga, setidaknya untuk membeli tambahan uang membeli bahan makanan dan sayuran.


Tampaknya malam itu bulan tidak menampakkan sinarnya. Di sebuah rumah sederhana, seorang pemuda sedang bergelut dengan PR nya. Dengan penerangan lampu teplok sederhana, goresan pensil yang mulai memendek mengayun di atas kertas. Sunyi, hanya suara jangkrik dan kadangkala suara burung hantu yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Kadang untuk memcah keheningan malam pemuda itu menyetel radio tua nya. Radio yang dibeli dari kota dulu, warisan orang tuanya, bahkan saat membeli radio itu pemuda itu belum lahir. Radio masih menjadi barang yang mewah. Karena tidak semua warga desa itu memilikinya, maklum saja, listrik belum ada. Sehingga sumber listrik radio hanya dari batu baterai.

Radio hanya mampu menangkap beberapa chanel saja, karena juga belum banyak stasiun radio yang ada. Namun setidaknya malam itu sedikit ramai, dengan lagu-lagu yang diputar di radio, dan sesekali celotehan sang penyiar yang menghangatkan suasana. Lagu demi lagu sudah terputar, hari mulai malam dan nampaknya para warga lain juga sudah tertidur pulas. PR pemuda tadi pun sudah selesai. Dimatikanlah radio itu, selain sudah malam, menyetel radio terlalu lama adalah pemborosan baterai. 

Dalam keheningan malam itu juga. Pemuda itu penasaran seperti apa dunia luar. Karena sampai saat ini hidupnya hanya disekitaran kampungnya saja. Dalam keheningan malam ia ingin melihat dunia luar. Yang mungkin lebih cerah, gemerlap di saat malam, dan juga ramai, tidak sehening malam itu. Hampir setiap malam ia membayangkan angannya itu. Namun karena usianya dan karena keterbatasannya, nampaknya ia harus bersabar sampai saat nya nanti. 


Cerita heningnya malam


Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar