Sabtu, 17 Januari 2015

Napak Tilas Keganasan Merapi di Kinahrejo

Kronologi :
26 Oktober 2010, pukul 17.30, Agus Wiyarto, H. Tutur Priyanto (relawan PMI) dan Yuniawan Wahyu (wartawan vivanews) tiba di Kinahrejo untuk memberitahu dan membujuk warga agar turun karena telah terjadi erupsi Merapi. Sejak pukul 17.02 mulai terjadi awan panas selama 9 menit. Pukul 18.00 sampai dengan pukul 18.45 terdengar suara gemuruh dari pos pengamatan gunung Merapi Jrakah dan Selo. Suara dentuman sebanyak 3 kali terjadi pukul 18.00, pukul 18.15 dan pukul 18.25. Pukul 18.21 terjadi awan pasa besar selama 33 menit. Dari pos pengamatan gunung Merapi Selo terlihat nyala api bersama kolom asap membumbung ke atas setinggi 1,5 km dari puncak Merapi. Sementara luncuran awan panas mengarah ke sektor barat-barat daya dan sektor selatan-tenggara.

mobil evakuasi yg terkena awan panas 26 oktober 2010

Keterangan kronologi erupsi 2010


Pukul 18.15 sirine meraung-raung ketika warga sedang sholat magrib. Mobil Suzuki APV menjadi satu-satunya kendaraan untuk mngevakuasi warga. Pukul 18.40, karena masih banyak yang berlum terangkut, maka Tutur Priyanto dan Yuniawan kembali naik untuk menyelamatkan warga.

Pukul 18.50, dalam upaya menyelamatkan warga lebih banyak, Tutur Priyanto dan Yuniawan gugur bersama terbakarnya mobil evakuasi di halaman rumah Mbah Maridjan, akibat terkena awan panas.

Saat erupsi itu pula Mbah Maridjan gugur, Tim SAR dan relawan mulai menyusuri bekas erusi pada pukul 21.00 tanggal 26 Oktober 2010. Mbah Maridjan menolak untuk turun ke barak pengungsian karena ia menganggap sudah tugasnya untuk tetap menunggu Merapi saat itu. Dan erupsi peang itu ternyata menjadi hari terakhirnya menjadi juru kunci gunung Merapi. Jasad mbah Maridjan ditemukan pada pagi harinya tanggal 27 Oktober 2010 dalam kondisi bersujud mengahdap ke arah kiblat. Diduga Mbah Maridjan tewas saat erupsi dan sedang sholat magrib.

Kinahrejo saat ini :
Bekas erupsi tahun 2010 saat ini mulai tak terlihat lagi, meskipun masih banyak bekas-bekas peninggalan keganasan erupsi Merapi saat itu. Setelah erupsi memang banyak sekali wisatawan yang ingin melihat bekas eruspsi Merapi. Banyak mobil-mobil jeep sewaan dan motor sewaan yangbisa disewa untuk berkeliling daerah mbah Maridjan ini. Di sini pula kita bisa melihat bekas rumah Mbah Maridjan. Rumah mbah Maridjan kini hanya batur tanpa dinding. Ada bangunan kecil di tengah yang diduga itu adalah bekas kamar ditemukannya jasad mbah Maridjan.

Di sebelah rumah mbah Maridjan, terdapat barang-barang mbah maridjan dan tenatngga yang hangus bersama erupsi Merapi. Ada juga koleksi gamelan mbah Maridjan yang masih di simpan di sini. Mobil evakuasi dan dua buah motor tetangga mbah MArijan juga terpajang disini, seolah menjadi saksi bisa betapa ganasnya erupsi saat itu yang membuat apapun hangus terbakar. Termasuk mobil yang hancur hanya meninggalkan rangka besi begitu juga sepeda motor yang hangus hanya meninggalkan rangkanya saja. Bayangka jika yang terkena adalah manusia.

Di depan rumah mbah Maridjan dibangun Joglo semacam aula, Sedangkan di belakang Jogja terdapat bangunan semacam kandang yang terdapat tulang-tulang yang diduga tulang hewan ternak (sapi) yang hangus bersama erupsi Merapi.

Cuaca cerah :
Saat cuaca cerah tanpa kabut dan awan, Merapi bisa terlihat dengan jelas dari segala penjuru Jogja. Termasuk tentunya dari Kinahrejo rumah Mbah Maridjan. Disini pula kami melihat langsung saat Merapi sedang sangat jelas sekali terlihat. Memang sangat dekat, hanya sekitar 4-5 km dari puncak Merapi. Bahkan dari sini kita harus menengadah untuk melihat ke puncak, sangat jelas sekali lekukan dan tekstur puncak Merapi dari sini. Seakan memang sangat dekat. 

bekas rumah Mbah Maridjan sekarang

pintu masuk bekas rumah mbah Maridjan, tapi pengunjung dilarang masuk

tulang yang diduga tulang hewan ternak yg terkena erupsi Merapi

Bahkan jika membayangkan situasi saat 2010, saya merasa merinding sendiri. Kenapa tidak karena memayangkan ada awan panas yang meluncur dari puncak, maka mungkin hanya buruh beberapa detik aau menit saja untuk menyambar kami di sini. Dan itu terjadi tahun 2010 dan bekasnya masih sangat nyata di tempat ini.

Namun dari sisi lain saat cerah seperti ini, Merapi terlihat sangat indah. Maka tak heran saat cuaca cerah banyak sekali wisatawan yang mengunjungi Kinahrejo dan sekitarnya karena ingin melihat merapi lebih dekat dan jelas. Memang saya kira titik desa terdekat adalah dari Kinahrejo ini. 






Di tempat ini pula kita akan secara otomatis terbawa ke bayangan-bayangan tentang semua yang telah terjadi di tempat ini. Bahkan saat kita melihat foto pasca erupsi pertama, yang ada di kandang tulang ternak tadi, maka kita melihat dulu semuanya hangus, hanya menyisakan bangunan-banguan rusak dan pohon yang hangus, hampir tak ada penghalang untuk melihat ke bawah sana karena semua pohon telah hangus.




Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar