Minggu, 15 Februari 2015

Mengadaptasikan Pemikiran

Banyak dari mereka menjalani hidup di lingkungan dengan pemikiran yang sama. Sejak lahir, anak-anak, dan lalu tumbuh dewasa. Mereka menjalaninya dengan mulus, karena semua berdasarkan atas pemikiran yang sama. Namun beberapa yang lainnya berbeda. Mereka hidup dari masyarakat dengan pemikiran yang unik, bukan aneh. Hingga salah satu anggota dari mereka menghadapi dunia luar yang asing baginya. Namun karena sebuah keadaan, ia mulai terbiasa dengan hal itu. Meninggalkan pola dan pemikiran hidup yang lama darinya.

Seiring waktu ia mulai mengadaptasikan pemikirannya dengan dunia barunya. Ia belajar banyak hal. Hingga masuk dalam pemikirannya tentang banyak hal yang kebanyakan manusia bisa hidup lebih baik dengan pemikiran itu, yaitu tentang pemikiran yang pertama saya sebutkan tadi. Seiring waktu pemikiran itu semakin masuk dalam benaknya. Hingga ia membenarkan hal itu sebagai prinsip hidup. Apakah  ia salah? Entahlah, pemikiran orang begitu rumit. Bahkan untuk memahami pemikiran kita sendiri kadang kita kesulitan atau bahkan melah tidak peduli dan asal menjalani saja apa yang ada, buat apa dipikirkan dan buang-buang waktu untuk melamun.

Hingga pada saatnya ia kembali ke asal muasalnya. Ia merasakan sesuatu yang berubah, entah pada tempat asalnya atau pada dirinya sendiri. Situasi semasa dulu ia belum pergi seakan semua tidak ada yang aneh dan tidak ada yang janggal. Namun setelah ia kembali seolah semuanya perubah. Pemikiran yang baru telah mengubah cara pandangnya terhadap sesuatu. Ada banyak yang salah yang baru ia sadari belakangan ini. Namun ia sendiri tidak bisa mengubah keadaan begitu saja, apalalgi dengan diri nya yang hanya sndirian. Dalam hatinya ia bertanya apakah ada yang memandang sama seperti sudut pandangnya terhadap fenomena apa yang ada di sekitarnya.
Situasi yang mau tidak mau harus ia hadapi. Akhirnya ia pun harus beradaptasi dengan pemikiran yang lama. Pemikiran baru yang didapatkannya selama ini harus berdamai dengan pemikiran lamanya, atau dia hanya akan bingung sendiri dengan situasi yang dihadapinya. Lama kelamaan ia kembali terbiasa, meskipun pemikiran baru lebih kuat dalam benaknya, karena visinya adalah ke depan, bukan ke masa lalu. Ia pun bisa berdamai dengan pikirannya, bahkan kadang bisa membaginya, kapan ia menggunakan pola lama dan kapan ia harus menerapkan pemikiran baru di lingkungannya.


Sedikit demi sedikit ia menyeimbangkan. Dan dengan disertai keyakinan bahwa pemikiran baru itu sebenarnya diinginkan oleh lingkungannya, namun ketidaktahuanlah yang menyebabkan hal itu belum terjadi. Terbesit selalu dalam benaknya bahwa suatu saat lingkungannya akan meradakan kemudahan dengan pemikiran yang baru itu, yang selama ini ia dapatkan di lingkungan yang baru. Dan seterusnya ia selalu melakukan adaptasi pemikiran saat ia harus kembali ke lingkungan yang barunya untuk menuju masa depannya. 


Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar