Minggu, 15 Februari 2015

Sebelum ada listrik

Listrik memang belum banyak masuk ke daerah-daerah pada saat itu. Termasuk kampung ini. Setiap sore menjelang, biasanya banyak warga yang pergi ke warung untuk membeli minyak tanah sebagai bahan bakar penerangan malam. Untungnya minyak tanah saat itu masih sangat murah, sebelum akhirnya menjadi sangat langka dan mahal seperti sekarang ini. Penerangan kampung ini tergantung pada minyak tanah.

Dan saat malam mulai datang, seketika kampung dipenuhi dengan cahaya-cahaya kecil dengan warna orange khas nyala api. Yaitu nyala berbagai jenis lampu, mulai dari teplak, ting (lampu api dengan nyala sebesar lilin dan dimasukkan ke dalam toples kecil dengan lubang terbuka di atasnya dan di dasar toples diberi minyak tanah sebagai bahan bakarnya), dan untuk acara penting biasanya menggunakan petromax. Saya lupa cara kerja petromax, yang jelas yang saya tau waktu itu sulit untuk menyalakan petromax, butuh keahlian khusus. Dan untungnya sudah ada mesin diesel saat itu yang disewakan sebagai sumber listrik ketika acara hajatan seperti mantenan dan sebagainya.

Hanya ada beberapa TV itu saja masih hitam putih di kampung ini. Itu saja dengan sumber energy dari accu (aki). Yang harus di isi strum saat litrik mulai habis, itu pun dengan tempat pengisian listrik yang jauh. Bahkan cerita dari para orang tua dengan waktu lebih ke belakang di jaman mereka, untuk menonton TV saja harus pergi ke kantor kecamatan yang disediakan TV umum di sana. Bisa dibayangkan saat itu malam-malam saat gelap gulita tidak ada listrik dan pergi ke kantor kecamatan, dengan berjalan kaki pula, karena sepeda pun masih langka. Iya memang sih katanya mereka berangkat dengan beramai-ramai. Bahkan mungkin jumlah acara saat itu masih sangat sedikit juga dengan stasiun TV yang masih sedikit juga.

Masih teringat meski samar-samar di ingatan saya ketika belum masuk listrik di kampung ini. Banyak warga yang mengandalkan hiburan radio, dengan berbagai jenis radio dari ukuran kecil sampai ukuran besar. Saya juga masih ingat radio keluarga kami saat itu radio yang kami beli di kota, mungkin dengan ukuran sekitar 30x20x15 cm, kira kira seukuran itu. Dan cukup lama menjadi sumber hiburan kami saat itu. Dan jaman itu siaran radio yang popular adalah sandiwara radio yang disiarkan oleh DeVeKa AM, karena saat itu belum masuk chanel FM. Lagu-lagu dangdut popular saat itu juga menjadi favorit siaran radio, dan tentunya karena belum banyak lagu-lagu band seperti saat ini apalagi lagu barat. Pokoknya lagu-lagu tahun 80-an dan 90-an. Radio juga menjadi bahan hiburan ibu-ibu ketika berkumpul untuk membuat kerajinan anyaman dari pohon pandan dan juga saat “petan” (mencari kutu rambut dengan bergantian).

Itulah sedikit cerita jaman-jaman ketika kampung ini belum dimasuki listrik. Iya memang itu bagian dari sejarah yang mungkin dilihat dari saat ini jaman itu masih sangat sengsara. Tapi sepertinya tidak, karena jaman itu sepertinya justru mempunyai sisi kebahagiaan sendiri, tentunya kebahagiaan versi jaman itu. Dan jaman itu sudah berakhir. Saya lupa kapan tepatnya listrik masuk kampung ini. Dan saat itu saya masih kecil, dan belum bersekolah. Saya ingat saat itu masuk truk besar dengan mengankut batangan panjang dan besar, yang nampaknya sangat berat, dan mulai saya tau bahwa itu adalah tiang listrik. Tiang yang akan menyangga kabel-kabel penghubung listrik ke kampung ini. Tiang-tiang itu lalu diletakkan di titik-titik tertentu di kampung kami. Dan pemasangan tiang listrik beserta kabelnya pun menjadi tontonan orang-orang kampung ini. Dan beberapa warga dari kampung akhirnya memasang listrik atau istilahnya pasang meteran. Dan untuk warga lain yang belum bisa memasang meteran hanya “nyalur” dari rumah yang sudah memasang meteran resmi dengan kabel. Listrik yang dipasang pun rata-rata berdaya 450W. Ya sebuah daya yang kecil karena memang paling hanya untuk kebutuhan penerangan (lampu) saja. Dan belum banyak yang punya TV. Hingga akhirnya mulai dikenal TV pribadi yang dimiliki rumah-rumah di kampung ini. Meski pada awalnya sebelum banyak yang memiliki TV, maka warga akan berkumpul bersama menonton TV ke rumah yang sudah mempunyai TV. BIsa dipastikan sete;ah maghrib, rumah warga yang mempunyai Tv akan mulai penuh sesak oleh orang satu RT yang berkumpul menonton TV, mungkin seperti pasar malam. Dan tikar mulai dikelar untuk lesehan menonton TV. Dan kebersamaan itu masih sangat jelas di ingatan saya. Acara popular saat itu adalah Misteri Gunung Merapi, Angling Dharma, Wiro Sableng, dan Sinetron Tersanjung yangserinya sangat panjang.

Hingga akhirnya seperti sekarang ini. Semua rumah sudah mempunyai TV, sehingga jarang sekali terjadi kebersamaan seperti dulu, meskipun bisa dibilang jaman dulu jaman susah, tapi kebersamaan itulah yang membahagiakan kami, seakan kami semua adalah saudara dan keluarga. Hampir semua masalah keseharian menjadi topic perbincangan yang hangat, namun sekarang kita jarang tau apa yang dialamai dan apa-apa saja yang terjadi pada tetangga kita karena jarang mengobrol sehari-hari. Semua sibuk dengan TV nya masing-masing. Dan hiburan masing-masing.Ya wapaupun masih ada perkumpulan warga untuk acara tertentu yang rutin, tetapi tidak sesering dulu saat semua berkumpul menonton TV bersama.




Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar