Senin, 23 Maret 2015

Negara Ekonomi Terbuka Harus Menyesuaikan Gejolak Ekonomi Global

Prof. Budiono dalam acara Economics Talk yang diselenggarakan Senin, 23 Maret 2015 di Pertamina Tower FEB UGM menyatakan apa yang dihadapi Indonesia saat ini adalah konsekuensi negara dengan ekonomi terbuka yang harus menyesuaikan keadaan ekonomi global. Acara dengan tema "Perkembangan Ekonomi Global, dan Tantangannya untuk Indonesia" ini dihadiri puluhan mahasiswa, yang bertempat di Auditorium Djarum lantai 6 Pertamina Tower FEB UGM.



Beliau juga menyapaikan kepada mahasiswa untuk mempelajari yag lebih dari apa yang di dapat di fakultas. Dan semestinya itu dimulai dari sekarang terlebih karena banyaknya fasilitas yang menunjung mahasiswa untuk belajar.

Beliau tidak spesifik menyinggung masalah makro saat ini terutama terkait dengan kurs. Beliau juga menyatakan kebijakan makro membutuhkan seni dalam pengelolaan, dan biarkan pemerintah bekerja. Ia lebih membahas masalah pembangunan lebih dalam dan jangka panjang, sebagai pesan kepada generasi muda.

Apapun kondisi ekonomi Global, Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbuka harus menyesuaikan. Dan beliau juga menyampaikan bahwa era saat ini adalah era penyesuaian, semua negara dengan ekonomi terbuka mau tidak mau harus menyesuaikan keadaan ekonominya terkait dengan ekonomi global yang mempengaruhi negaranya.

Apa yang terjadi saat ini adalah gejolak global yang susah diprediksi. Bahkan kadang perlu indera ke enam dalam ekonomi untuk menentukan arah kebijakan, tentunya indera ke enam ini adalah pengalaman dan sense yang kuat dalam ekonomi, itulah mengapa beliau berpesan kepada mahasiswa agar selalu belajar lebih dari apa yang sudah di dapatkan di universitas agar pengetahuan lebih luas.

Globalisasi harus ditetima tapi dengan cerdas, dan harus dengan logika yang cerdas, serta diimbangi dengan kebijakan yang cerdas.

Dalam paparannya beliau menyebutkan empat ekonom, yang dengan pemikirannya kiranya bisa membangun Indonesia ke depan lebih baik. yaitu :

Friederich List, ekonom abad ke-19, yang lahir di Jerman lalu pindah ke AS. Ia fokus pada sejarah dan pembangunan. ia mengatakan kemajuan ekonomi bangsa tidak diukur oleh laju PDB nya. Tapi pada kapasitas prodiktif nasionalnya yang menurutnya lebih penting, bukan statistiknya. Karena ini mengukur kompetitif yang maju dalam produksi. Komponennya banyak tapi diantaranya yaitu
 1. Modal mental 
2. Mesin 
3. Infrastruktur (semuanya sebagai indeks kemajuannya).
Bukan negara tumbuh ekonominya tapi karena menjual warisan sumber daya alam.

Joseph Scumpeter. Ahli ekonomi yang menguasai politik dan sejarah. Lahir di Austria lalu pindah ke AS. menurutnya kemajuan ekonomi sumbernya yaitu inovasi (memasukkan teknologi baru dalam produksi untuk meningkatkan produktivitas). Inovasi dimaksud adalah yang ada dalam proses produksi nyata. Tidak harus produksi fisik tapi bisa manajemen dan riset atau temuan penelitian. Bisa terjadi kalau ada supply teknologi dalam kenyataan (terapan).

Thorstein Veblen, yang berfokus pada aspek sosial. Buku "Leisure class". Mengkritik istilah middle class sebagai penggerak ekonomi. Karena banyak kelas menengah tidak menghabiskan uangnya untuk kemajuan ekonomi, misalnya untuk investasi, tapui hanya untuk leisure. Sehingga hanya untuk konsumsi dan jika tidak dikendalikan akan memicu impor, karena konsumsi yang terlalu tinggi. Bukan berarti anti orang kaya. Sehingga perlu dilakukan survei behavior untuk middle class agar konsumsinya mendorong ekonomi nasional.


Gunnar Myrdal, ekonom Swedia. Dalam bukunya di tahun  60-an yaitu Asian Drama ia menganalisa negara berkembang dan muncullah konsep yangg ia sebut sebagai negara lunak atau soft state , negara yangg punya sistem hukum politik ekonomi dll, tapi kebijakan yg diambil tidak relevan pada kondisi waktu itu. Mengambil keputusan yang tidak baik pada dirinya sendiri. Suatu negara akan maju jika sektor publiknya bagus, terutama dalam jangka panjang. Negara lunak ini pada umumnya kebijakan yang diambil akan berantaka dan tidak mengatasi masalahnya sendiri.

Dalam penutup acara Prof. Budiono juga kembali menekankan, bahwa beliau tidak banyak menyinggung masalah ekonomi kekinian karena beliau ingin menekankan pada aspek pembangunan jangka panjang. Beliau juga menyatakan ingin menyentuh hati mahasiswa, bukan hanya pada pemikiran saja tentang ekonomi. Beliau juga berkali-kali berpesan bahwa masih banyak yang harus dilakukan untuk ekonomi Indonesia, dan itu semua beraada di tangan generasi muda terutama para mahasiswa.


Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar