Rabu, 04 Maret 2015

Pilihan

Hidup memang sebuah pilihan, hampir setiap saat kita harus menentukan pilihan. Mau tidak mau kita harus memilih, bahkan saat kita memilih untuk tidak memilih apapun. Mungkin kita sudha terjerat dalam kodrat hidup yaitu sebagai makhluk pemilih. 

Terkadang terlintas dipikiran, dan melintas sebuah pertanyaan " Tadi aku mau ngapain ya?" atau "Bego kenapa aku tadi kayak gitu, begini kan akhirnya". Pilihan memang akhirnya berujung pada konsekuensi dari pilihan kita sendiri, atau bahkan dari pilihan orang lain yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh kepada kita.

Mungkin kalau diklasifikasikan, ada 3 dampak dari pilihan. 
1. Berdampak baik dan positif
2. Biasa saja, tidak ada perubahan (karena mungkin rutinitas biasa)
3. Berdampak buruk dan penyelasan

Tentu saja kita tidak mau sebuah pilihan yang kita ambil itu berdampak buruk dna mengakibatkan penyesalan di kemudian hari. Tapi apa yang menjamin itu semua bisa terjadi, bahwa pilihan kita akan berdampak baik terhadap kita. Atau mungkin berdampak buruk di awal, tapi pada akhirnya akan berdampak baik  dan dampak baiknya lebih besar daripada dampak buruknya. Itu semua kembali lagi kepada pilihan masing-masing.

Karena mau tidak mau kita harus memilih, maka tentu kita kadang berfikir, apa dampak jika saya memilih melakukan itu, memilih melakukan ini, atau memilih itu dan mengabaikan yang ini. SUngguh kadang pilihan itu memang sulit, sekalipun sudah terbayang akan hasilnya di kemudian hari. Dan akan lebih sulit jika kita adalah tipe orang pemikir, melakukan segala hal harus dengan pertimbangan yang matang, karena tidak mau ada masalah sedikitpun pada proses apalagi pada hasilnya.

Pada akhirnya memang harus kembali lagi bahwa semua ada risikonya. Hanya bagaimana kita mengatur risiko itu, apa mau menghadapi, menghindari atau yang sedang-sedang saja (risk taker, risk averter). Dan mungkin terkadang memang kita harus spontan dalam mengambil keputusan (Just do it). Saya kagum dengan orang semacam itu, menentukan pilihan hanya atas dasar ia mau melakukannya,  masalah proses dan hasil, itu belakangan. Mungkin nama lebih ekstrimya "nekad saja". 

Pada situasi tertentu dimana saat kita harus benar-benar menentukan pilihan dengan penuh kesadaran, terkadang pula kita bingung untuk memilih yang mana. Atau saat kesadaran kita mengarahkan pada suatu keinginan pada suatu hal, dan itu di luar batas kemampuan kita atau diluar ranah kita, kadang timbul pula pertanyaan "apa yang mau dipilih?'.

Pilihan-pilihan itu lah yang kadang secara sadar dan tidak sadar kita lakukan. Tapi pada akhirnya, hidup memang haus memilih, meskipun kita tidak memilih untuk hidup (karena kita ditakdirkan untuk hidup dan dilahirkan di dunia ini), Dan pada akhirnya mungkin memang kita harus belajar dari pengalaman, bagaimana cara memilih yang terbaik dan menentukan pilihan terbaik versi kita sendiri. 

Dan akan lebih bijak jika pilihan itu meminimalkan dampak buruk untuk kita dan untuk sekitar kita, untuk saat ini dan untuk masa yang akan datang. Akan kurang enak rasanya ketika pilihan hanya berdampak positif sesaat, tapi akan berampak negatif di masa yang akan datang. Dan mungkin kita harus terus belajar bagaimana cara menentukan pilihan terbaik (versi kita sendiri) yang bukan menimbulkan penyesalan. Meskipun terkadang sulit.


Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar