Selasa, 17 Maret 2015

Rupiah semakin goyah

Pergerakan mata uang rupiah terhadap US dolar semakin mengkhawatirkan dan cenderung semakin mengalami depresiasi. Memang depresiasi mata uang ini tidak hanya dialami rupiah saja, mata uang lain terutama regional ASEAN pun mengalami tekanan yang sama. Hal ini terkait dengan menguatnya mata uang US dolar karena perbaikan perekonomian negara itu.

Namun seberapa buruk kinerja rupiah dibandingkan dengan negara lainnya? Dari data mata uang beberapa negara regional ASEAN maupun negara lain seperti Australia, kebanyakan dari mereka juga terdepresiasi terhadap US dolar. Namun jika diperhatikan tren yang terjadi beberapa hari kebelakang atau beberapa minggu ke belakang, rupaih mempunyai kinerja terburuk dengan depresiasi paling besar diantara lainnya.


sumber : oanda.com

Pergerakan mata uang sejak akhir 2014 dan sampai pertengahan Maret bisa kita lihat (rupiah warna orange) mengalami depresiasi paling tinggi yaitu sekitar 4,20% dan dengan pergerakan paling curam (depresiasi paling cepat). Dolar Singapura dan Ringgit Malaysia juga kita lihat mengalami depresiasi yang cukup besar (biru dan biru tua). Sedangkan yang menarik adalah Peso Filipina dan Bath Thailand justru mengalami penguatan (hijau dan merah). Kita lihat kedua mata uang itu bergerak datar dan tidak begitu berfluktuasi.


Melemahnya nilai rupiah juga mulai dirasakan dan diprediksi akan semakin menurunkan penjualan barang impor ke Indonesia. Laporan Businessweekindonesia.com menyatakan penurunan rupiah yang semakin besar akan menurunkan penjualan komputer personal sebesar 4,9% tahun ini, lebih besar dari perkiraan sebelumnya yang hanya 3,3% dalam rilis Kamis, 12 Maret 2015.

Hal ini tentunya merugikan konsumen dengan semakin mahalnya barang-barang yang memang harus impor, atau produsen dengan bahan baku impor. Depresiasi ini pun bisa menguras kas pelaku bisnis swasta yang mempunyai utang luar negeri dalam bentuk US dolar.

Meskipun pemerintah mengklaim bahwa pelemahan mata uang rupiah akan menguntungkan produsen dalam negeri dengan pasar ekspor, namun itu hanya sebagian kecil saja dari fenomena yang memang sedang terjadi. Namun apakah jika dibandingkan antara nilai impor ( dengan mata uang US dolar) lebih kecil daripada nilai ekspor yang semakin besar (karena barang relative menjadi semakin murah) dengan mata uang US dolar? Sehingga apapun yang terjadi semestinya pelemahan nilai rupiah terhadap US dolar tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Pemerintah yang akan mengeluarkan paket kebijakan tentunya patut untuk diapresiasi. Sehingga diharapkan hal ini akan menekan laju depresiasi rupiah yang semakin parah. Namun perlu diingat juga, seperti pendapat para ekonom, bahwa kebijakan yang diambil memerlukan jeda waktu untuk benar-benar mengenai sasaran yaitu menghentikan laju depresiasi ini yang mungkin sekitar 3-6 bulan.

referensi : 




Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar