Minggu, 05 Juli 2015

Akhirnya aku bertemu ibu ku setelah 30 tahun berpisah

Dari kisah nyata Aurelli alias Yulianti yang terpisah dengan ibu kandungnya selama 30 tahun.
Penulis : Heri Sugianto

Namaku Yulianti, setidaknya itulah nama ku yang sebenarnya. Namun selama 30 tahun ini aku menyandang nama yang lain. Iya, aku memang orang Indonesia, tapi tidak besar di Indonesia. Semua berawal saat aku berumur lima bulan, ibu kandungku menitipkan aku pada sebuah yayasan asuhan. Hingga akhirnya aku diadopsi oleh pasangan dari Prancis.

Awalnya semua baik-baik saja. Aku hidup dengan keluargaku layaknya keluarga eropa yang lain. Sekolah, bermain dan tumbuh besar dengan keluarga ku di Eropa. Yang tentunya aku mengira mereka adalah orang tua kandungku. Aku hidup berkecukupan disini. Sekolah yang layak hingga aku sampai di bangku kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang layak pula.

Tiga puluh satu tahun aku hidup di Eropa dan hidup dengan budaya eropa dan semua serba eropa seperti layaknya orang lain. Indonesia bagiku adalah sesuatu yang asing. Sama sekali aku tidak terbayang seperti apa Indonesia yang sebenarnya. Apalagi membayangkan bahwa aku adalah darah asli dan lahir di Indonesia.

Aku hidup dengan bahasa sehari-hari Perancis, dan tentunya bahasa Inggris. Tak terbayang bagiku seperti apa bahasa Indonesia itu. Tapi setelah 30 tahun hidup dengan keluarga eropaku, aku terkejut dan merasa semacam shock. Saat aku mengetahui siapa jati diriku sebenarnya. Siapa ibuku dan dimana aku lahir.

Semua itu berawal dari dokumen adopsi yang ditunjukkan orang tua asuhku, yang selama ini aku anggap orang tua kandungku. Mereka menceritakan siapa jati diriku sebenarnya. Hingga akhirnya aku terpanggil, untuk mencari siapa orang tua kandungku. Dalam dokumen itu aku adalah Yulianti, tentu saja sangat berbeda dengan nama Eropaku. Bahkan aku merasa agak aneh dengan nama itu. Dalam dokumen itu tertulis nama Nona sebagai ibu kandungku.

Sejak saat itu pun aku memutuskan untuk mencari siapa ibu kandungku yang sebenarnya. Aku mencari tahu tentang Indonesia dimana 30 tahun yang lalu aku dilahirkan, tepatnya di kota Semarang. Sesuai alamat di dokumen adopsiku. Aku belajar sedikit-sedikit bahasa Indonesia, dan budaya Indonesia, dan tentunya juga tentang kota kelahiranku.

Akhirnya aku terbang ke Indonesia, dan mencari alamat yang tertera di dokumen adopsiku. Perasaanku saat itu sangat tidak karuan, antara bingung, penasaran dan penuh dengan rasa ingin tahu. Penuh emosional, antara jelas dan tak jelas. Apalagi aku sama sekali tidak tahu seperti apa Indonesia itu. Apalagi membayangkan seperti apa orang tuaku dan saudaraku yang merupakan orang Indonesia asli. Sampai akhirnya aku tiba di Indonesia. Tepatnya di Jakarta.

Tujuan selanjutnya adalah Semarang, tempat aku dilahirkan. Namun ternyata aku mendapatkan teman di Jakarta yang kebetulan adalah reporter TV. Aku berkenalan dengan dia dan menceritakan tujuanku di Indonesia. Dia membantuku, sekaligus dia terinspirasi dengan cerita hidupku dan ingin meliput perjalananku. Aku pun tak keberatan. Akhirnya ia menemaniku ke Semarang.

Tiba di Indonesia saat ini, tak ada bayangan seperti apa Indonesia 30 tahun yang lalu dimana saat aku dilahirkan. Aku hanya ingat bahwa orang tuaku menitipkanku di yayasan karena kesulitan ekonomi. Mereka ingin aku mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Itulah niat mereka.

Perjalananku ke Semarang masih dengan perasaan yang sama. Penasaran, bingung, dan tentunya masih beradaptasi dengan Indonesia. Aku sama sekali tidak mengerti bahasa Indonesia. Untunya teman ku dari Jakarta ini adalah reporter yang hebat hingga dia lancer berbahasa inggris. Sehingga komunikasi tidak menjadi masalah.

Aku mencari alamat yang tertera di dokumen adopsiku. Namun aku tidak menemukan hasil yang diharapkan. Alamat itu sudah tidak ada karena tempat sudah berubah. Maklum saja sudah 30 tahun lamanya. Aku mencari kepala desa dengan temanku dan menanyakan dimana Ibu Nona yang tertera di dokumen adopsiku. Namun pak kadespun tidak tahu.

Namun aku menemukan informasi bahwa Ibu Nona sudah pindah ke Jakarta. Akupun mencari kontak orang yang pernah berhubungan dengan ibu Nona. Hingga akhirnya informasi itu membawaku ke Jakarta lagi.

Disela-sela pencarianku, aku masih beradaptasi dengan Indonesia. Di Jakarta, aku sempat mengunjungi beberapa tempat seperti Monas. Melihat suasana Indonesia masih asing buat aku, namun aku merasa ada ikatan emosional dengan para warganya. Aku mengamati sekelilingku, dan sejenak merenung dan membayangkan bagaimana jika selama ini aku hidup di Indonesia.

Pencarian berlanjut, aku dan teman reporterku menuju sebuah apartemen kecil di tengah kota yang tahu mengenai informasi ibu Nona. Namun aku kaget, ibu Lasih yang merupakan teman ibu Nona menceritakan hal yang sangat lain dengan bayanganku.

Bukannya dia membingungkanku, tapi ternyata ibu nona adalah orang yang mebgasuhku di yayasan, bukan ibu kandungku. Lalu siapa ibu kandungku, hatiku bertanya-tanya. Hampir putus asa. Tapi titik trang mulai terlihat saat ibu Lasih bilang ia memiliki kontak keluargaku. Iya, keluargaku yang sebenarnya.

Temanku itu sangat membantuku dengan bahasa Indonesia nya. Hingga ia mendapatkan kontak keluargaku, tepatnya mbak ku. Saat itu juga di tempat ibu Lasih temanku itu menelepon mbak ku. Tentu saja aku tidak tahu seperti apa mbak ku itu. DIcoba saja untuk menelepon. Panggilan dilakukan dan tersambung. Terdengar suara perempuan setengah baya. Temanku membuka percakapan dengan memperkenalkan aku.

Sebenarnya aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, namun hanya dengan mengira-ira saja. Temanku memberitahu mbak ku bahwa aku Yulianti adiknya yang sudah 30 tahun tidak bertemu sudah kembali ke Indonesia. Ada gejolak dalam hatiku saat aku mendengar percakapan mereka. Iya, itulah suara kakakku yang sebenarnya. Aku berusaha menyapa kakakku lewat telepon dengan bahasa Indonesia yang aku ketahui, sedikit-sedikit dengan kata salam pada umumnya bahasa Indonesia. Sempat aku meneteskan air mata saat itu.

Aku adalah anak ke enam dari tujuh bersaudara, karena alas an ekonomi aku dititipkan di yayasan, hingga akhirnya aku diadopsi oleh orang tua angkatku dan membawaku ke Perancis.

Percakapan itu membawa aku kembali ke Semarang. Iya, ibu Nona tidak lagi di Semarang dan aku tidak berhasil menemuinya, yang ternyata memang bukan ibu kandungku. Ibu kandung dan saudara-saudaraku masih tinggal di Semarang. Mbak ku memeberikan alamat kepada kami. Kami kembali ke Semarang.

Untuk memastikan temanku terlebih dahulu ke Semarang dengan rekan media nya. Aku menyusul dengan rekan media yang lain. Sungguh aku sangat deg-degan. Terbayang di wajahku seperti apa saudara-saudaraku, dan terutama ibuku. Ibuku yang berdarah asli Indonesia, yang selama ini aku tak terbayang seperti apa mereka, budaya mereka, keseharian mereka dan semuanya. Semuanya ada di pikiranku tak karuan. Seperti mimpi dan semacamnya.

Meskipun aku merasa masih seperti orang asing di sini, tapi seakan aku merasa ada ikatan emosional dengan keadaan di sini. Mungkin karena tersugesti bahwa di kota inilah aku di lahirkan. Kota yan selama 30 tahun ini sama sekali tak terbayangkan olehku.

Aku semakin dekat dengan rumah ibuku. Menyusuri gang kecil dengan berjalan kaki. Terlihat dari kejauhan ada sebuah rumah kecil sederhana yang sudah ramai. Teryata itulah rumah ibuku yang sebenarnya. Saudara-saudaraku pun sudah berkumpul menungguku. Belum sempat aku sampai halaman rumah, mereka sudah keluar menyambutku di teras rumah. Aku menghampiri mereka. Rasanya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Campur aduk perasaanku, antara bingung, senang, bahagia, semuanya campur dari satu.

Mereka menyambutku dengan sangat antusias, tangis haru dan bahagia pecah di rumah itu. Semuanya menangis bahagia, entahlah. Sauraku, mbak ku, kakak-kakakku semuana menyambutku dengan haru. Iya, memang aku tidak mengenal sama sekali mereka. Bahkan aku merasa seperti orang asing di rumah ini. Namun aku pun terbawa suasana, semua perasaan bercampur aduk dan tentunya tangis haru dan bahagia pun jatuh dari mataku.

Mereka semua memelukku dengan hangat dan haru. Seolahs emua rasa penasaranku selama ini sudah terangkat, semua beban terasa sudah terangkat. Sekali lagi, aku masih merasa seperti orang asing disini. Tapi sambutan mereka semua membuat aku merasa seperti pulang kerumah, iya tentunya rumah yang sesungguhnya. Kami pun masuk ke rumah. Semuanya terlihat senang dengan kedatanganku, tentunya juga aku. Mereka menggunakan bahasa Indonesia yang tidak aku mengerti, tapi aku merasa ada ikatan batin dengan mereka. Ada sesuatu yang lain, yang mungkin hanya aku yang bisa merasakannya. Namaku adalah Yulianti, bagian dari keluarga ini. Meskipun dalam 31 tahun ini aku lebih sering di panggil dengan nama Aurelli, nama ulianti sama sekali tidak terbayang olehku bahwa itu adalah nama yang diberikan oleh ibu kandungku.

Kami menghabiskan waktu bersama dengan bercerita tentang keluargaku yang sebenarnya ini. Dengan antusias mereka menceritakan masa kecilku, dan masa lalu keluargaku antara ibuku, dan ayahku. Namun ayahku sudha meninggal satu tahun yang lalu. Iya tentunya sudah sangat lama aku meninggalkan ibuku, hingga kini ibuku sudha lanjut usia. Ibuku dan saudaraku perbah mencoba mencariku, namun apa daya mereka tidak mempunyai informasi yang cukup tentang aku.

Mereka hanya tahu aku diadopsi oleh orang asing, orang eropa begitu katanya. Mereka meminta maaf kepadaku atas apa yang mereka lakukan saat aku masih kecil karena telah memisahkan aku dengan mereka. Tapi itu semua tak masalah, bagiku itu keputusan yang aku maklumi, demi kebaikanku sata itu. Justru itu adalah upaya mereka agar kehidupanku lebih baik.

Mereka juga menitip salam untukkeluarga angkatku di Perancis. Mereka berterima kasih telah membesarkan aku dengan penuh kasih saying dan pendidikan yang layak. Hingga aku memperoleh elar sarjana dan bekerja cukup layak di Perancis di pasar sekuritas Perancis.

Kurang lebih kami menhabiskan beberapa jam pertemuan dengan penuh emosional, perasaanku masih belum jelas, tapi yang jelas aku sangat bahagia dan sangat lega bertemu dengan ibu dan saudara biologisku. Meskipun aku masih gegar budaya, karena sangat asing bagiku Indonesia itu. Setidaknya dua minggu aku mencari mereka, dua minggu pula aku mengenal Indonesia secara langsung.

Kami menghabiskan waktu dengan berfoto bersama, dan aku memberikan mereka gelang sebagai tanda pengingat kami semua. Sebuah gelang sederhana yang setidaknya menjadi kenangan aku dan mereka.

Beberapa jam yang penuh emosional akhirya harus berakhir. Aku harus kembali ke Perancis karena pekerjaanku yang harus aku lanjutkan. Setidaknya aku sudah bertemu keluargaku. Menghilangkan rasa penasaran yang selama ini menghampiriku.

Aku memberikan kontak dan alamatku kepada mereka, sehingga kami bisa saling berkomunikasi. Dan tentunya aku akan sangat ingin suatu saat aku kembali kesini, saat pekerjaanku sedang libur. 

Perpisahan berakhir sangat haru. Rasanya tak ingin aku meninggalkan mereka. Meskipun baru beberapa jam, namun aku merasa sudah sanat dekat dengan mereka dan sudah lama mengenal mereka. Iya itu mungkin karena ikatan batin keluarga.

Aku pun berpamitan dengan mereka. Dengan penuh haru dan tangis aku meninggalkan mereka. Begitu juga dengan mereka yang seakan tak ingin melepaskaku. Memang berat tapi mau bagaimana lagi. Aku harus melanjutkan tugasku.

Akhirnya terbayar sudah rasa penasaranku, Dan aku bisa kembali ke Perancis dengan tenang. Dan tak sabar rasanya ingin menceritakan ini kepada keluarga angkatku. Yang selama ini juga tentunya membesarkanku dengan penuh kasih saying layaknya anak sendiri. Sungguh aku sangat berterima kasih dengan keluargaku atas semua yang mereka berikan kepadaku.



 Lihat kisah videonya DISINI


Artikel menarik lainnya :

3 komentar:

  1. Pengen yang lebih seru ...
    Ayo kunjungi www.asianbet77.com
    Buktikan sendiri ..

    Real Play = Real Money

    - Bonus Promo Red Card pertandingan manapun .
    - Bonus Mixparlay .
    - Bonus Tangkasnet setiap hari .
    - New Produk Sabung Ayam ( minimal bet sangat ringan ) .
    - Referal 5 + 1 % ( seumur hidup ) .
    - Cash Back up to 10 % .
    - Bonus Royalty Rewards setiap bulan .

    untuk Informasi lebih jelasnya silahkan hubungi CS kami :
    - YM : op1_asianbet77@yahoo.com
    - EMAIL : asianbet77@yahoo.com
    - WHATSAPP : +63 905 213 7234
    - WECHAT : asianbet_77
    - SMS CENTER : +63 905 209 8162
    - PIN BB : 2B4BB06A / 28339A41

    Salam Admin ,
    http://asianbet77.com/

    BalasHapus
  2. Yulianti The great soul of the Indonesians grew up in France to preach the story

    BalasHapus
  3. Kisah mengharukan....Jadi ikut mewek ....😭😭😭😭

    BalasHapus