Selasa, 15 September 2015

Ilusi Hati

Hari mulai sore. Langit mulai menguning. Di sebuah tempat yang tinggi dan bisa melihat ke sekitar. Angin sore yang sepoi-sepoi berhempus menyentuh permukaan kulitnya dengan lembut.

Ia sengaja disana untuk menikmati sore hari itu. Setelah aktivitas hari itu yang cukup menguras pikirannya.

Ia membawa sebuah buku. Buku tentang cerita-cerita remaja yang penuh warna warni yang ia beli beberapa hari yang lalu. Beberapa cerita sudah ia baca. Dan dari situ wajahnya mulai berubah. Seakan ada sesuatu yang ia pikirkan.

Tetnyata ia sedang berpikir tentang hidupnya terutama tentang hatinya. Cerita dalam buku itu membuka pikirannya tentang kehidupannya selama ini dan membandingkannya dengan cerita yang ada di buku itu.

Bagaimana tidak? Ternyata itu di bagian cerita tentang ilusi hati. Sebuah ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri untuk dirinya sendiri. Meskipun itu tidak nyata, dan hanya angan-angan belaka.

Ia sadar ternyata selama ini ia telah banyak juga menciptakan ilusi-ilusi hatinya. Seperti menciptakan angan-angan yang membuat seolah hatinya baik-baik saja dan tidak apa-apa.

Maklum saja, selama ini hatinya sering gelisah. Kalau anak gaul sekarang menyebutnya 'galau". Karena mungkin hatinya sudah lama sendiri. Oleh karena itu ia menyadari bahwa selama ini ia hidup dengan ilusi- ilusi hatinya. Menciptakan imajinasi imajinasi yang menenangkan hati. Meskipun kadang tidak bisa dipungkiti kalau hatinya tidak baik-baik saja. Ada sesuatu keinginan yang belum ia dapatkan.
Akhirnya setelah beberapa cerita yang membuka pikiran dan hatinya itu, hari semakin sore dan semakin gelap. Ia menutup buku itu. Seraya masih memikirkan apa yang terjadi dalam cerita buku itu, dan tentunya dengan apa yang terjadi dengan dirinya.

Setidaknya buku itu sedikit menyadarkan dia, agat tidak menciptakan ilusi lebih banyak lagi. Agar dia semakin yakin memgambil keputusan. Sore itu hatinya mendapat sedikit nutrisi dan pencerahan.



Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar