Rabu, 23 September 2015

Kabar dari jiwa

Hari hari berlalu seperti biasanya. Mengejar sebuah cita-cita yang sudah lama dipikirkannya. Seolah semuanya baik-baik saja. Hingga pada suatu saat seolah ada sesuatu yang kurang. Apa itu? Dia masih bertanya-tanya.

image from : https://mindbodyspiritualawareness.com

Dalam kebingungan, malam, siang, pagi dan kadang juga sore hari. Terutama saat senja menjelang. Ia masih memikirkan ada apa. Lalu ia mulai mengerti. Ada hal yang lama dilupakannya. Ia sadar bahwa ia sudah lama tidak menanyakan kabar jiwanya. Apa baik-baik saja? Mungkin itu pertanyaan sederhananya. Tapi percayalah sebenarnya tidak sesederhana itu.

Ia mulai memikirkan apa yang terjadi dengan dirinya. Maklum tentunya siapapun harus mempunyai sedikit waktu untuk memerika keadaan batinnya. Barangkali ada yang tidak beres.
Ia semakin sadar tat kala ia memeriksa keadaan jiwanya dengan pertanyaan pertanyaan dalam hatinya.

“Hai kamu, apa kabar?? Maaf sudah lama tidak menyapa, aku terlalu sibuk dengan fisikku dan anganku.”Sedikit demi sedikit mereka berbagi. Jiwa pun memberi tau kabarnya, dan jawabannya cukup untuk menyindir bagaimana kehidupannya selama ini dengan angan dan kesibukan fisiknya.
“Aku masih baik-baik saja. Hanya saja mungkin kamu harus lebih banyak punya waktu dengan ku dan jangan terlalu seolah aku tidak ada. Tahukah kamu tawamu, senyummu dan hal yang kamu anggap menyenangkan itu sudah lama tidak aku rasakan. Semua itu seakan kamu buat sendiri tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam jiwamu ini.”

Akhirnya mereka (jiwa, fisik, dan logika) saling bercerita. “Memang sih sebenarnya aku seakan sudah lama melupakannmu. Aku terlalu sibuk mencari kebahagiaan yang sebenarnya itu tidak berarti apa-apa jika kamu tidak ikut merasakan. Seperti kebahagiaan itu aku nikmati sendiri, lalu habis dan tidak bebekas.”

“Tapi yakinlah, sebenarnya apa yang aku lakukan ini juga demi kita, terutama hidup fisik yang menopang kita. Kamu mungkin butuh teman untuk membuat hari-harimu bahagia. Tapi lebih dari itu, si pemilik tubuh ini juga butuh untuk tetap hidup, menjalani hidup dan menikmati hidup. Tentu saja ia ingin kamu sebagai jiwanya juga merasakan apa yang seharusnya ia rasakan. Bahkan ia ingin aar kamu bahagia, menjalani hari dengan bahagia. Karena sesungguhnya kamu adalah jiwanya, yang menjadi salah satu energy untuk hidupnya. Tapi ada daya, untuk membahagiakanmu ia membutuhkan bantuan orang lain. Mungkin itu juga yang sedang ia lakukan, hanya saja kamu tidak tahu. Ia selalu mencari hal yang bisa membahaiakanmua, tapi ia juga harus pandai menyimpan kesedihanmu wahai jiwa.”


Jiwa pun mulai sadar, meskipun ia tahu hal itu kurang mengenakkan. Tapi ia sadar, terkadang memang ia merasa kesepian. Karena bagaimanapun ia harus mempunyai teman, yaitu jiwa yang lain. Yang sama-sama bisa merasakan meskipun mereka tidak saling melihat. Itulah yang jiwa cari. Sebuah kebahagiaan yang mungkin tidak semua majikannya bisa membahagiakannya. Hanya jiwa yang lain yang bisa mengerti keadannya. Dan majikannya sedang mencari jiwa lain itu.


Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar