Rabu, 23 September 2015

Senja Tepi Muara


Desa Tanggul Angin berada di ujung selatan Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen. Tepatnya desa ini adalah tempat bermuaranya sungai Luk Ulo. Di muara Sungai ini banyak penambang pasir, nelayan, petani dan juga para peternak udang yang membuat tambak udang di pesisir Kebumen.



Tambak udang belum lama marak di sini. Berawal dari pengusaha luar daerah yang sukses, lalu beberapa warga mulai merintis bisnis ini. Sedangkan yang lain masih bertahan dengan bercocok tanam, dan menjadi penambang pasir. Sebaian lain menjadi nelayan yang mengarungi ganasnya ombak pantai selatan.

Sungai Luk Ulo di ujung nya membelok ke kanan, membelah daratan yang kemudian memisahkan daratan di ujun selatan desa ini. Sehingga jika di lihat di peta, sungai ini sejajar dengan laut, hanya dipisahkan daratan selebar 100 meter saja. Sehingga untuk mencapai daratan ini warga harus menyeberangi sungai yang melintang ini dengan perahu.

Kebanyakan mereka memang mempunyai sawah, dan juga kadang untuk mencari pakan ternak di sawah seberang sungai. Sebagian lain menambang pasir, dan mengumpulkannya di tepi utara sungai untuk kemudian di angkut dengan truk yang membeli pasir.

Pemandangan yang indah tiba saat sore hari. Saat matahari sudah mulai mengendurkan sinarnya dan menjadi hangat. Masyarakat masih beraktivitas di sawah, sebagian masih di tempat pengumpulan pasir. Begitu sampai beranjak gelap.

Saat hari mulai gelap, dan matahari mulai terbenam serta langit yang mulai menguning keemasan, biasanya para warga baik itu yang bertanam di swah, mencari pakan ternak, dan sebagainya akan pulang dengan menyeberangi sungai. Mereka menggunakan perahu.

Untuk mereka yang mempunyai perahu sendiri biasnya bebas untuk menyeberang, sementara yang lain harus menumpang perahu tetangganya. Beraneka bawaan dibawa pulang dari sawah. Biasanya perahu penuh dengan hasil panen saat musim panen, atau penuh dengan muatan rumput untuk pakan ternak.

Mereka menyeberang saat senja, air sungai sudah tenang saat itu dan udara sejuk. Sesampainya di seberang utara sungai, biasanya mereka bergotong-royong untuk menurunkan bawaan mereka dari perahu. Muatan perahu di taruh di tepi sungai, biasanya mereka menepi di tempat pengumpulan pasir hasil tambang warga. Lalu pemilik akan mengangkut barang-barang itu ke rumah mereka masing-masing. Pemandangan itu akan semakin unik saat musim tanam, biasanya perahu dipenuhi dengan ibu-ibu yang pergi ke sawah untuk bertanam sebagai buruh tanam oleh si pemilik sawah.


Begitu seterusnya saat senja menjelang. Terkadang di sore yang indah itu penuh dengan canda tawa penduduk sekitar. Seakan tidak terlihat rasa lelah dari mereka yang pulang dari sawah. 


Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar