Sabtu, 17 Oktober 2015

Gerakan Menanam Sejuta Pohon vs Gerakan Membakar Hutan



Pasti di antara kita pernah mendengar gerakan menanam seribu pohon, sepuluh ribu pohon, dan sekarang kalau tidak salah menjadi sejuta pohon. Tapi bagaimana nasib dan efektivitas program itu setelah tiga bulan ini lebih marak dengan gerakan membakar pohon (hutan dan lahan)?

Memang miris sekali. Tidak akan ada ujungnya jika kita membahas tentang pembakaran hutan dan lahan yang sekarang menimbulkan dampak kabit asap yang luar biasa, kerugian ekonomi yang luar biasa dan biaya pemadaman yang tak kalah luar biasa. Sekali lagi, luar biasaaa..

Jika dibandingkan, berapa lama pohon untuk tumbuh menjadi pohon yang kokoh, lalu berapa lama sebuah pohon bahkan hutan untuk musnah jika terbakar? Mungkin hanya dengan satu malam, puluhan hektar hutan musnah terbakar dengan segala yang ada di dalamnya, termasuk para binatang.
Kalau mengingat kembali gerakan menamam sejuta pohon, lalu melihat dengan mata bagaimana hutan kita terbakar selama berbulan bulan, seolah kita hanya sedang bermain main saja. Memang bagus gerakan menanam pohon, tapi ternyata gerakan merusak dan mematikan pohon itu lebih ganas dari apapun. Lalu, jelas bahwa yang kota butuhkan adalah gerakan menyelamatkan pohon dan hutan agar tidak musnah terbakar. Karena dampaknya benar benar luar biasa.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah. Sampai kapan hutan kita akan terus terbakar, terjadi setiap tahun, memusnahkan puluhan bahkan ratusan hektar hutan, demi kepentingan kelompok tertentu, tetapi mengorbankan masyarakat dan semua yang ada di sekitarnya. Apakah sampai hutan kita habis? Tentu jawabannya tidak semudah dan sesederhana itu.

Dampak Jangka Panjang

Kekhawatiran kita adalah dampak dari kebakaran hutan itu. Selain sudahjelas hutan kita semakin berkurang, maka pasokan oksigen menjadi semakin berkurang. Belum lagi dampak asap yang dikirim ke lapisan ozon yang akan semakin merusak ozon.

Belum lagi dampak kesehatan. Bertahun tahun dalam setiap tahunnya jutaan penduduk harus menghirup asap. Tentunya akumulasi dari itu semua akan berbahaya di masa mendatang, apalagi sidah jelas puluhan ribu di antara mereka langsung terkena imbas penyakitnya. Sesak nafas, diare, dan sebagainya. Lalu tak kalah mengkhawatirkan adalah kondisi anak, dan pertumbuhannya nanti jika selalu menghirup kabut asap.

Akumulasi pada semua itu pada akhirny akan menjadi biaya di masa depan jika terkena penyakit. Ditambah lagi dengan efek menurunnya produktivitas selama kabut asap dan jika masyarakat terkena penyakit di masa depan akibat akumulasi dari menghirup asap. Terlalu komplikated untuk dipikirkan ternyata. Tapi yang menjadi pertanyaan kita lagi. Apakah pemerintah, terutama pemerintah daerah memikirkan hal ini? Entahlah...

Keseriusan Pemerintah

Bagaimana pun juga sudah jelas terlihat gerakan menanam pohon sudah di injak injak martabatnya oleh aksi pembakaran hutan dan lahan. Membangun memang selalu membutuhkan waktu lama, tapi memusnahkan kadang hanya membutuhkan waktu beberapa kedipan mata saja.

Tentu menjadi tanda tanya kita bersama seberapa serius pemerintah mengatasi hal ini.? Upaya pemadaman kita apresiasi. Meskipun sudah terlambat. Harapan kita bersama adalah apakah pemerintah akan serius untuk mencegah hal ini terjadi lagi tahun depan?

Jika Langit Marah dan Hujan Tak Lagi Turun

Saat ini harapan masyarakat adalah turunnya hujan sehingga asap menghilang dan kebakaran mereda. Tapi bayangkan jika hujan tidak lagi turun. Mungkin tidak akan lagi ada hutan yang tersisa. Hutan yang terbakar tidak bisa lagi tumbuh. Dan hutan akan benar-benar musnah.




Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar