Jumat, 11 Desember 2015

Budaya Mencatut, dari Mencatut Nama Presiden, Sampai Mencatut Agama

Belakangan ini publik dihebohkan dengan istilah mencatut karena indikasi kasus pencatutan nama presiden dan wakil dan wakil presiden untuk kepentingan pribadi atau mungkin golongan, saya tidak tahu. Yang jelas istilah catut ini semakin populer. Awalnya saya mengira catut itu adalah sebuah alat untuk memotong, dan istilah catut atau mencatut yang bermakna membawa-bawa suatu hal untuk kepentingan terntentu masih asing dalam benak saya. Munkin karena istilah ini jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari.


Oke kembali ke masalah catut. Setelah mencermati apa itu mencatut, ternyata saya jadi teringat memang sebenarnya mencatut ini sering digunakan oleh pihak-pihak tertentu dengan maksud dan tujuan tertentu yang biasanya dengan mencatut suatu hal yang positif tetapi cenderung digunakan untuk kepentingan yang kurang positif (bukan berarti mutlak negatif). Memang kadang ada sisi baik dari pencatutan ini, hanya saja kadang saya sayangkan masih sering ditunggangi dengan kepentingan dan maksud-maksud yang tidak semestinya, atau tidak sejalan dengan maksud pencatutan ini.


Mungkin kalian bingung, bagaimana maksudnya. Misalnya sebagai contoh, sebuah situs, fanspage, web, atau apalah itu dengan mengatasnamakan "agama", atau "tokoh" (kita asumsikan ini pencatutan), isi dari kontennya mungkin sebagian relevan. Misalnya dengan mengatasnamakan agama, pembahasan yang dimuat adalah berisi tentang agama. Tapi, kadang muncul konten yang justru berbeda tema dengan bobot yang ekstrim. Misal isu politik yang belum pasti kebenarannya, bahkan kadang berisi (semacam provokasi) untuk membenci pihak atau kelompok tertentu. Saya di sini belum berbicara masalah isu radikal. Karena memang saya tidak berminat mencari atau menhindari untuk menemui hal-hal seperti itu. Kalau sudah mengerti, silahkan baca paragraf kedua sebelumnya.


Nyatanya memang banyak yang sependapat dengan saya. Kadang risih juga melihat hal seperti itu. Apalagi isu atau bendera yang dipakai adalah bendera agama. Entah apa motifnya, apakah sudah sedemikian kuatnya ambisi politik para politikus kita. Hingga membawa-bawa nama tokoh penting negara, sampai membawa-bawa agama untuk menarik simpati.



Tapi saya senang saat banyak komentar kritis dilontarkan ke pihak-pihak yang "keblinger" atau "mblunder" tadi. Setidaknya memang masyarakat sudah tidak bodoh, bisa memilah milah informasi yang kiranya masuk akal, relevan, dan tidak dimanipulasi sedemikian rupa untuk mengalihkan fokus berfikir mereka.






Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar