Sabtu, 09 Januari 2016

Kenapa Bus Milik Swasta Semakin Mulus, dan Bus Pemda Semakin Hangus?

Ini tentang pengalaman saya di jalan raya. Saat ini saya lihat banyak sekali bus-bus patas, pariwisata, AKAP, dan sebaginya semakin mulus dan kinclong saja.Tapi di sisi lain, saya sering merasa terganggu dengan kebulan asap hitam pekat dari bus yang katanya fasilitas umum dari pemerintah. Selain itu, bentuk fisiknya sudah tida enak dilihat lagi. Banyak cat mengelupas di sana sini. Atau badan bus yang retak, retak, bahkan bagian-bagian bus yang sudah tidak utuh lagi.

Ini menggelitik saya untuk berbagi cerita disini. Bagaimana swasta bersaing dengan sedemikian rupa memberikan layanan terbaik dengan bus-bus keluaran terbaru, teknologi-teknologi terbaru, yang membuat nyaman penumpang. Sementara di sisi lain, pemerintah dengan alih-alih memberikan layanan umum pada transportasi publik, nyatanya malah keberadaanya mengganggu dan terkesan tidak sehat dan membahayakan.

foto : ahargian21.wordpress.com
Lihat saja bus-bus di jalan raya, dengan elegant ia melaju menapaki aspal jalanan yang lagi-lagi (kadang kurang mulus karena kerusakan aspal yang tidak juga diperbaiki pemerintah). Sementara di sisi lain, bus-bus milik pemda melaju dengan kebulan asap seolah ada pabrik di dalam bus yang sedang beroperasi, menyemburkan asap pekat yang membuat jalanan menjadi gelap gulita (agak lebai dikit).

Jadi pasti ada yang salah. Lihat saja bagaimana kasus transjakarta yang selalu menjadi polemik, dan yang saya lihat sendiri, kondisi transjogja yang semakin memprihatinkan. Asapnya minta ampun, badan bus nya retak dimana-dimana. Bahkan bagian-bagian badan bus ada yang idak utuh lagi. 

Tentu saja saya sebagai pengguna jalan dan mungkin yang lainnya juga merasa terganggu dengan hal ini. Tak heran muncul petisi untuk memperbaiki layanan ransjiogja yang sudah bergulir belakangan ini.

Selain itu banyak sudah analisis yang jelas-jelas mengarah pada ketidakberesan manajemen penyediaan alat transportasi publik ini yang dimaksudkan untuk memberi kenyamanan, tapi semakin ditinggalkan karena sudah tidak nyaman lagi.

Kadang saya heran, tapi juga memang kadang memaklumi. Heran karena kenapa bisa seperti itu? tidakkah ada standar atau kemauan untuk mencapai standar minimal yang sudah ditentukan?

Tapi kadang saya juga memaklumi. memang suatu tingkatan standar itu mungkin ada, tapi hanya saya orang Indonesia memang biasa dengan keadaan "asal ada" "asal untung", atau "asal jalan". Alhasil hanya asal ada saja. idak perduli bagaimana kondisinya dan standar "ada" itu sendiri.

Bagaimana mungkin pemerintah yang mengontrol uji KIR, perlindungan lingkungan dan perlindungan konsumen malah memberikan contoh yang sebaliknya. 

Bagimana mau mencapai ketepatan waktu kalau mencapai standar minimal kelayakan saja masih jauh? Bagaimana kita bisa bangga dengan layanan yang kita punya kalau kita saja masih merasa risih dibuatnya? Sampai kapan kita akan terus kagum dengan kondisi angkutan umum di luar negeri dan dengan ketepatan waktunya, sementara tambah prihatin dengan layanan angkutan publik dalam negeri?



foto : http://liputan.tersapa.com/

foto : www.huffingtonpost.com

https://www.change.org/p/walikota-yogyakarta-haryadi-suyuti-perbaiki-transportasi-publik-trans-jogja

http://krjogja.com/read/157356/page/tentang_kami

http://www.satuharapan.com/read-detail/read/asap-pekat-bus-trans-jogja-berpotensi-picu-kecelakaan

https://ugm.ac.id/id/berita/345-jumlah.pengguna.trans.jogja.menurun

Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar