Jumat, 01 Januari 2016

Cerita Akhir Tahun


Tanggal 31 Desember tahun 2015. Pada saat itu sekitar jam satu siang di terminal Jombor, Yogyakarta. Sebuah terminal di ring road utara kota Jogja, tepatnya di jalan Magelang, tepat di bawah samping fly over jombor.

Siang itu cukup panas. Beberapa hari terakhir memang cuaca Jogja sedang panas, meski di musim hujan. TIdak seperti hari-hari sebelumnya yang setiap sore hari pasti hujan.

Saya hari itu sejak pagi mengantarkan teman saya jalan-jalan. Teman lama yang sudah lama tidak ketemu. Dia main ke Jogja dan minta di temani jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Jogja. 

Kebetulan pada siang hari itu juga, kita ke terminal Jombor untuk membeli tiket teman saya kembali ke Jakarta.

Saya menunggu di luar tempat agen tiket. Sambil menunggu, saya berteduh di bawah pohon yang ada di depan ruko-ruko agen tiket yang berjajar rapi.

Sambil iseng-iseng membuka hape dan buka-buka medsos dan portal berita. Tatapan saya kesana-kemari sambil mengamati suasana terminal. Karena memang sejak sekian lama di Jogja saya baru pertama kali ini ke terminal yang namanya Jombor itu.

Seketika pandangan saya melihat kea rah seorang kakek tua  yang berjualan mainan anak. Saya memang tergugah untuk melihat karena mendengar suara mainan anak yang sedang di jajakan kakek itu. Suaranya nyaring. Seperti baling-baling tetapi diputar dengan tangan dengan  cara mengayunkannya berulang-ulang. 


Saya tidak tau apa nama mainan itu. Yang jelas seperti itulah cara memainkannya. Dengan mengyun-ayunkan berulang-ulang agar baling-baling berputar dan menimbulkan bunyi-bunyi itu. Kakek itu rupanya hanya menjual satu jenis mainan itu saja. Tidak menjual mainan yang lain.


Saya masih ingat kakek itu mekakai celanan pendek warna gelap agak lusuh. Sebuah kaos warna gelap juga dengan ada krah di lehernya.

Ia menenteng sebuah kardus agak besar dengan tali yang menguntai di selempang badan, semacam tas selempang kardus. Mungkin itu untuk tempat mainan yang lainnya. Selain itu ia juga memegang mainan lainnya di tangan kirinya. Sambil tangan kanannya memainkan salah satu mainan untuk menarik perhatian.

Tidak ada kata terucap untuk menawarkan mainan. Hanya berjalan saja sambil memainkan salah satu mainan itu.

Kakek itu berjalan sudah agak luntai. Langkahnya pendek-pendek dengan agak terlunta. Selain itu juga terpasang sepasang sandal jepit di kedua kakinya.

Hanya berjalan saja. Tanpa kata-kata keluar dari mulutnya. Itulah pertama kali saya melihat kakek penjual mainan itu di siang hari yang panas itu. Sebelum selanjutnya terjadi cerita yang lebih panjang…

***

Teman saya sudah kembali dari agen tiket. Katanya tiket untuk tanggal satu sudah habis semua. Yang tersedia paling cepat adalah hari itu juga, tanggal 31 Desember.

Akhirnya teman saya mengambil bus jam 16.30. Kami pun kembali ke tempat kos saya. Perjalanan sekitar 30 menit, karena cukup macet pada siang itu. Nampaknya akhir tahun di Jogja banyak sekali wisatawan. Sampai-sampai macet dimana-mana, dan didominasi oleh kendaraan dari luar daerah.

Sampai di kos sekitar jam dua kurang lima belas menit. Setelah memepersiapkan semuanya dan sedikit istirahat setelah lelah jalan-jalan, akhirnya saya mengantarkan teman saya kembali ke tempat agen bus tadi, di terminal Jombor.

Tentu saja kembalinya saya ke terminal ini tidak ingat kakek itu lagi. Sampai selanjutnya ada cerita yang lebih panjang.

Sampai di terminal Jombor sekitar jam empat sore. Dan saya tinggalkan teman saya itu disana, dan kembali pulang ke kosan. Setelah sebelumnya mampir ke apotik dan minimarket untuk membeli beberapa keperluan.

***

Sekitar jam lima sore. Teman saya yang sebelumnya (tanggal 30 Desember) menginap di kosan saya dan pada sore harinya menlanjutkan perjalanan pergi ke Solo, ternyata tanggal 31 Desember itu juga kembali ke Jogja. Katanya urusan di Solo sudah beres.

Ia meminta dijemput di bawah Fly Over Janti jalan Solo. Sebelah timur Amplaz (Ambarukmo Plaza). Akhirnya setelah saya mandi, saya menjemput teman saya di bawah Fly Over Janti.

Sekitar menjelang maghrib. Kami tidak langsung pulang, karena teman saya ada perlu membeli sesuatu. Dan kami pergi ke sebuah tempat di selokan Mataram. Sampai akhirnya seetelah magrib kami sampai di kosan.

***

Waktu menunjukkan jam 20.45. Beberapa jam sebelum tahun baru. Kami pun lapar (agak nggak nyambung) biarin yah..hahaha

Kami memang tidak ada agenda khusus di tahun baru. Sudah terbayang macet nya JOgja di malam tahun baru. Orang dimana-mana. Pokoknya crowded bikin pusing.

Tapi yang jelas kita harus nyari makan. Mau nggak mau harus keluar kosa. Kosan saya kebetulan di dekat kampus UNY. Jadi akhirnya setelah berpikir panjang kami memutuskan untuk makan di kawasan depan kampus UNY, dekat Indomaret point.

Usut-usut kami sudah pesan makanan. Dan makanan pun datang. Kami pun segera menyantap makanan yang sudah tersaji.

***

Disinilah  cerita selanjutnya dimulai.

Sedang asyik makan malam itu. Tiba-tiba terdengar suara mainan seperti yang saya dengar di terminal Jombor. Dan benar saja, ternyata kakek yang saya lihat di terminal Jombor itu muncul di hadapan kami.

Saya memang tidak cerita kepada siapapun kalau saya melihat kakek itu di terminal. Tapi tentu saja saya heran, bingung, sekaligus mikir. Kok ya kebetulan sekali.

Di tengah makan malam itu saya cerita ke taman saya kalau kakek itu adalah kakek yang saya lihat di terminal Jombor. Karena saya tidak bisa menyembunyikan keheranan saya.

Kakek itu benar-benar berjalan di depan warung tempat makan kami. Dengan gaya dan kecepatan yang sama. Kaki agak terseok, berjalan lambat tapi dengan langkah yang konstan. Allahuakbar….

Di tangah acara makan itu saya dan teman saya masih keheranan sekaligus bingung.
Akhirnya sambil terheran-heran karena betapa jauhnya perjalanan kakek itu menjual mainan, dari siang sampai malam berjalan dari terminal Jombor jam satu siang sampai jam 9.30 malam. Kalau dipikir-pikir antara heran, tapi kasihan. Apalagi nampaknya masih banyak mainan yang belum terjual.

Akhirnya karena sambil makan. Kami terpikir apa kakek itu sudah makan yah.. Kalau makan makan pakai apa?

Ia sudah berjalan sejauh itu. Dengan motor saja perjalanan dari depan UNY sampai Jombor itu bisa sampai 20-an menit. Sedangkan kakek itu berjalan dari siang sampai malam sambil berdagang di tengah suasana orang-orang yang ceria berpesta pora bersiap menyambut tahun baru.

Obrolan-obrolan kami akhirnya mengarahkan kami pada ide untuk meberi kakek itu makanan. Yah sebungkus makan malam untuk kakek itu.

Kalau dibayangkan sudah seperti apa lelahnya kekek itu. Kalau membayangkan saja sudah capek, apalagi kakek itu yang fisiknya sudah lemah, berdagang yang juga belum pasti banyak pembeli.

Akhirnya setelah selesai makan, kami memesan sebungkus makanan dan minuman untuk kakek.

Kakek itu sudah lewat sekitar 10 menit dari tempat makan kami. Tapi sepertinya belum jauh. Kami pun mengejar dan mencari kakek tadi. Benar memang belum jauh. Kakek itu sedang menyeberang di lampu merah pertigaan gejayan demangan.

Kami manunggu di seberang agak jauh. Akhirnya kami bertemu kakek itu dengan sedikit obrolan. Kami memberikan makanan itu. Dan nampaknya kakek itu sangat senang. J Ternyata memang memberikan sesuatu kepada yang membutuhkan itu sungguh nikmat. Ada haru, senang, sedih, dan banyak halah…


*Mungkin karena siang hari itu saya melihat kakek itu lebih dulu. Jadi saya tau benar kakek itu berjuang untuk bertahan hidup.

*saya juga setuju dengan pesan untuk membeli dagangan orang-orang yang kiranya sangat membutuhkan dagangannya untuk kita beli. Karena bagaimana pun orang itu telah berusaha untuk bekerja keras dan tidak meminta minta.


Selamat Tahun Baru 2016……….


Artikel menarik lainnya :

1 komentar: