Jumat, 25 Maret 2016

Sekaleng Susu untuk Anakku

Mendung tebal menyelimuti langit sore ini. Kebetulan saya sedang dalam perjalanan dengan sepeda motor. Nampaknya hujan benar-benar akan datang dengan lebatnya, dan benar saja, tak lama hujan lebat datang.

Saya memutuskan untuk menghentikan perjalanan. Karena memang saya juga tidak membawa jas hujan. Jadi ya pasrah saja, menunggu hujan berhenti saja.

Saya memutuskan untuk berteduh di sebuah minimarket di kota kecil ini. Hujan semakin lebat saja. Saya pun hanya duduk santai di teras minimarket sambil melihat lalu lintas sore di kala hujan yang seakan semakin ramai seiring dengan semakin derasnya hujan.

Di tengah hujan yang deras, masih ada saja ternyata pembeli di minimarket ini. Membeli aneka macam kebutuhan. Dan tentu saja, ada juga orang lain yang numpang berteduh seperti saya. Karena teras minimarket ini lumayan luas. Meskipun tidak tersedia kursi di terasnya, tapi cukup nyaman untuk berlindung dari derasnya hujan.

Lalu yang menarik perhatian saya adalah ada seorang ayah hampir lanjut usia, membonceng seorang anak kecil yang saya duga itu anaknya.

Mereka menembus derasnya hujan dengan sepeda sederhana yang sudah cukup tua nampaknya, dengan mengenakan sebuah jas hujan plastik.

Dengan hati-hati, karena hujan cukup deras dan khawatir licin, sang ayah mengayuh sepeda menuju minimarket ini. Sesampainya di teras minimarket, sang ayah memarkirkan sepedanya di pagar samping depan minimarket. Teras minimarket memang agak menjorok ke depan atapnya, sehingga kendaraan yang parkir masih aman dari hujan.

Jas hujan mereka tanggalkan. Karena memang hanya satu jas hujan, mudah saja untuk mereka melepasnya kemudian menaruhnya di atas stang sepeda.

Lalu mereka masuk. Dari situ saya mulai mengalihkan perhatian ke hal lain.
Tapi tiba-tiba saya penasaran. Apa yang akan mereka beli sampai-sampai harus menembus derasnya hujan sampai ke sini.

Saya pun melihat mereka dari luar. Lampu minimarket yang sangat terang dan juga depan minimarket yang seluruuhnya kaca, membuat saya leluasa melihat ke bagian dalam minimarket.

Ternyata mereka tidak lama. Hanya beberapa barang saja yang terlihat di gengaman tangan sang ayah, dan mereka kembali ke kasir.

Ternyata sang ayah hanya membeli sekaleng susu kental manis dan ada yang lain lagi tapi saya kurang jelas melihatnya.

Tak lama kemudian mereka keluar. Terlihat jelas di dalam kantong plastik sekaleng susu kental manis itu. Ada rona yang berubah dari mereka berdua. Sang anak terlihat ceria di wajahnya, begitu juga sang anak.

Hujan di luar masih sangat lebat. Seperti di awal tadi, kendaraan juga masih ramai lalu lalang. Seakan mereka gembira menikmati hujan.

Sang ayah dan seorang anaknya tadi nampaknya tidak bisa menunggu lama-lama untuk sampai di rumah.

Mereka bergegas mengambil sepeda mereka, mengenakan jas hujan plastik itu. Dan dalam beberapa menit sudah hialng dari pandangan saya sore itu.

Saya baru sadar, ternyata keluarga itu sedang bahagia. Meskipun, mungkin darii mata orang lain biasa saja. Seorang ayah yg menerjang derasnya hujan hanya untuk membelikan anaknya sekaleng susu. Dan itu berhasil membuat mereka bahagia. Bahagia yang sederhana. Saya rasa itu adalah gambaran istilah "bahagia itu sederhana" yang sering kita dengar. Mungkin banyak kebahagian-kebahagiaan yang lain di sekitar kita. Hanya saja kita terlalu sibuk mencari kebahagiaan kita sendiri yang kita patok dengan standar yang tinggi. Selalu kurang dengan yang sudah kita miliki.

Kutoarjo, 25 Maret 2016.
17:29
Di tengah hujan deras.


Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar