Jumat, 11 Maret 2016

Terjebak dalam Stigma


Karena seperti ini menjadi tidak boleh. Karena seperti itu jadi tidak boleh. Yang boleh adalah yang seperti ini, yang seperti sudah-sudah. Yang seperti itu biasanya kayak gitu-gitu, yang seperti ini biasanya kaya gini-gini. Itulah kira-kira pandangan masyarakat kita sekarang ini.

Di era perubahan seperti sekarang memang banyak hal baru bermunculan, bahkan mungkin yang kadang berbeda dengan yang biasanya atau yang sudah-sudah. Hal yang berbeda di cap dengan ketidaksesuaian, keanehan, atau apa pun itu.

Era perubahan sekarang ini nyatanya memang tidak bisa kita hindari. Semua hal terjadi dengan cepat, bahkan mungkin sebelum kita menyadarinya, hal-hal sekitar kita telah berubah. Pada hakikatnya perubahan yang bisa kita saksikan ada dua sisi, yaitu apa atau siapa yang menyebabkan perubahan, dan seperti apa perubahan itu.

Kalau mau melihat dari sisi lain mungkin kita bisa melihat dari sisi apakah perubahan itu adalah karena diubah, atau karena memang secara alamiah suatu hal itu akan berubah, artinya meskipun kita tidak melakukan apa-apa, karena kehendak alam dan waktu hal itu akan berubah.

Terlepas dari semua itu, nampaknya memang kita masih harus  banyak belajar. Banyak perubahan disekitar kita yang kita tidak mau mengakuinya karena sang pelaku perubahan itu mendapatkan stigma yang kurang cocok dengan kita atau lingkungan kita. Atau di sisi lain, orang yang kia anggap pantas dan mampu, justru tidak melakukan perubahan yang berarti. Ironisnya, kadang justru malah menjadi perusak tatanan yang sudah ada, atau malah menghambat perubahan (positif).

Pada akhirnya masyarakat kita saat ini memang harus pintar. Pintar dalam hal menempatkan stigma, melihat realita, mengukur ekspektasi, dan tentunya menentukan pilihan.


Stigma memang nampaknya sudah menjadi budaya sosial masyarakat kita. Tapi tidak apa-apa asalkan stigma itu digunakan dengan semestisnya, menimbulkan realita yang diharapkan, dan dijadikan pedoman dalam menentukan keputusan. Namun di era yang semakin cepat, kompleks, dan kadang kejam, kita harus lebih realistis. Bukan berarti tidak memegang ideologi dan prinsip yang selama ini ada, namun tuntutan jaman memang semakin sulit. Jangan sampai stigma justru menghambat perubahan positif karena fanatisme yang berlebihan. 


Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar