Senin, 30 Mei 2016

Dua Minggu Bersama Pelatih PASPAMPRES Grup C, Bogor


Dua minggu menjalani latihan Kesamaptaan akhirnya berakhir. Dua minggu yang penuh kenangan bersama teman-teman baru dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini merupakan kerjasama LPPI (Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia) dengan Bank BTN dalam rangka pelatihan Kesamapaan ODP Bank BTN angkatan 39.

Sekilas saya jelaskan maksud dari Kesamaptaan yang dilakukan yaitu untuk membentuk pribadi yang disiplin, kuat secara fisik dan mental. Pada intinya itu. Namun tentu saja seiring berjalannya waktu dan banyaknya kegiatan yang dilakukan, banyak hal yang telah kami pelajari baik dari para pelatih maupun dari teman-teman seangkatan.

Misalnya masalah kekompkan, jiwa korsa dan peduli sesama, disiplin waktu, etika dan penempatan diri. Serta masih banyak hal lain yang tentunya itu tergantung dari persepsi masing-masing dalam mem[pelajari suatu hal.

Hari perama kami sampai di Markas Paspampres Lawang Gintung Bogor kami sudah disambut dengan berjalan jongkok setelah keluar dari truk. Memang jujur saja mungkin sebagian besar dari teman-teman juga berfikir bahwa kita akan menderita.

Memang bukan hal yang mudah mengubah sikap kita yang adinya sangat sipil, dibentuk untuk semi-militer.

Tapi seiring berjalannya waktu kamu mulai bisa beradaptasi dengan tensi latihan baik fisik maupun non-fisik. Lelah memang iya, tapi semuanya bisa dinikmati dengan kesengan dan kebersamaan. Tentunya juga dengan perilaku para pelatih yang cukup pengertian.

Di sela-sela acara kami mengadakan pesiar ke Istana kepresidenan Bogor. Waktu itu pada hari ke lima. Acara itu merupakan salah satu kegiatan untuk mengenali salah satu tempat penting negara yaitu Istana Kepresidenan.

Dalam acara itu kami berkunjung ke museum kepresidenan yang kebetulan baru berdiri belum lama namun sudah diresmikan presiden SBY pada tahun 2014 lalu. Tentu saja kami juga sempat berkeliling halaman istana. Selepas itu para siswa bebas jalan-jalan, hanya saja jam lima sore harus sudah kembali ke markas Paspampres.

Dua minggu di lingkungan militer juga membuat kita lebih mengenal dunia militer khususnya divisi pengamanan presiden yang selama ini jujur saja saya juga buta dengan itu. Tapi dengan dua minggu kesamaptaan ini kami dan saya tentunya menjadi lebih mengnal bagaimana sisi lain militer dan para pasukan pengawalan presiden.

Selama dua minggu ini kami menganggap tensi latihan sudah sangat proporsional untuk kalangan sipil yang baru mengenal militer.

Tentunya banyak macam karakter pelatih. Dan pada akhirnya, terjadi hubungan yang baik antar siswa dengan pelatih. Intinya kerjasama untuk melaksanakan kegiatan dengan baik dan disiplin. Hukuman harus tetap ada untuk melaksanakan komitmen bersama. 

Waktu demi waktu berlalu, hingga akhirnya tepat 14 hari kami di markas Paspampres Bogor. Acara pesta perpisahan pun dibuat kecil-kecilan. Intinya adalah malam untuk bersenang senang siswa kesamaptaan dengan para pelatih.

Acara diisi dengan orkes dangdut dan makan-makan bersama. Dimeriahkan dengan penampilan para siswa dari daerah rekrutmen masing-masing. Serta penampilan antar peleton yang waktu itu dari 85 siswa dibagi menjadi tiga pleton.

Malam itu sengat meriah memang, hampir tidak ada sekat antara pelatih dan siswa. Semua bersenang-senang. Tenyata kegarangan mereka selama ini seakan sudah sirna. Hanya ada kebersamaan. Joged bersama, bernyanyi bersama dan tertawa bersama.

Hingga pada akhirnya upacara penutupan latihan kesamaptaan dilakukan. Pertanda bahwa waktu kami di markas sudah saatnya berakhir. Acara diakhrii dengan salam-salaman dengan para pelatih dan juga para pejabat markas paspampres. ya haru-haru gimana gitu. rasanya justru ada beban berat untuk meninggalkan tempat yang selama dua minggu ini kita bernaung. Bahkan ada derai-derai air mata dari siswi-siswi cewek.

Sebelum berangkat kembali ke Jakarta, kami beroto-foto dengan jajaran Paspampres Bogor. Ya semacam foto-foto perpisahan gitu lah.

Intinya kami mendapatkan banyak hal selama dua minggu di markas Paspampres Lawang Gintung Bogor. Capek dan lelah memang iya. Tapi lebih dari itu kami belajar banyak hal. Tentang kenegaraan dan kehidupan. Tugas baru telah menanti kami. Seperti yang diwejang-wajangkan para pelatih, untuk mengabdi apda negara sesuai denga tugas kita masing-masing. Mensyukuri apa saja yang sudah kita dapat. Melakuakan tugas sebaik-baiknya demi kebaikan kita, bangsa dan negara. 

Dibalik kerasnya dunia militer, ternyata sebenarnya mereka manusia-manusia biasa yang tentu saja hebat. Meski dunia mereka keras, mereka memiliki hati yang lambut. Mungkin itu sedikit gambarannya. Selebihnya, kami-kami sendiri yang menyimpan pelajaran-pelajaran berharga dari mereka, sesuai dengan persepsi kami.


Artikel menarik lainnya :

1 komentar: