Sabtu, 18 Juni 2016

Jungkir Balik Menikung Lawan Politik

Semakin geli saja melihat politikus-politikus negara ini. Semakin aneh logika berfikirnya. Bahkan sudah terang-terangan tanpa malu-malu, sampai-sampai ditertawakan rakyatnya.

Setiap kali saya melihat berita-berita yang menunjukkan keanehan mereka, pasti ramai-ramai isinya bully dari para nitizen. Pertanyaannya adalah, apakah mereka sada dengan apa yang mereka lakukan? apakah mereka juga tau bahwa rakya mengamati bahkan menilai dengan terang-terangan melalui komentar-komentar mereka di berbagai media?

Tapi memang semua mungkin sudah wataknya. Sudah tidak mempan lagi sindiran dan bullian. Sudah erlalu bebal mereka dengan kritikan rakyat mereka sendiri, yang katanya mereka adalah wakil dari rakyat. 

Banyak hal yang menurut logika berfikir sederhana saja banyak yang 'gesrek'. Logika berpikirnya aneh bahkan terbalik-balik. Maka tidak heran rakyat mulai mengumpulkan gerakan-gerakan mendukung tokoh-tokoh yang memang serius bekerja dan tentunya mempunyai pemikiran-pemikiran dan solusi cerdas mengatasi masalah. Bukan malah memperkeruh masalah demi kepentingan dirinya dan kelompoknya.

Namun kembali lagi. Si politikus-politikus yang sudah 'gesrek' pun tidak mau kalah. Zona zamannya merasa terganggu. Maka dengan jabatan dan kekuasaan yang ada sekarang, sebisa mungkin harus menjegal apa-apa yang mengancam posisinya, terutama ancaman jerat hukum. Meskipun rakyat sudah tau dan sudah muak dengan bau bau asin perilakunya.

Yang bisa dilakukan memang sekarang adalah menunggu momentum. Meskipun jangan mengendorkan semangat bersih-bersih koruptor dan politikus licik. Melawan kebobrokan harus erus digencarkan.

Pergerakan-pergerakan nyata sudah mulai digencarkan untuk mematikan dan menutup gerak koruptor. Tapi sekali lagi, kadang apa yang sudah nampak jelas pun harus dibuktikan secara hukum. 

Meskipun rakyat sudah amat sangat gemas dengan perilaku mereka, tapi memang peraturan mengharuskan tindakan harus melewati jalan yang sudah diatutr, yaitu melewati jalur hukum. Kita tunggu saja. Saya senang kalau rakyat sudah semakin pandai melihat situasi dan memilah masalah. Tidak mudah digiring opini karena merka mempunyai dasar berpikir, yaitu aturan itu sendiri.

Kita tunggu saja momentumnya. Saat suara rakyat menjadi penentunya melalui hak suaranya secara resmi. Hanya aja sekarang harus mengawal proses dan peraturan menuju kesitu. Jangan sampai suara dan hak rakyat mulai dipreteli oleh oknum-oknum pembuat aturan yang ingin mencari selamat, perlindungan dan keuntungan.


Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar