Sabtu, 24 September 2016

Perbankan : Antara Teknologi dan Persaingan Industri

gambar dari http://indonesianindustry.com/
Kemajuan teknologi dan berbagai inovasi industri nampaknya tidak hanya menyanyasar dan memanaskan bisnis transportasi saja, tetapi juga sudah menyasar dunia perbankan. 

PERSAINGAN INDUSTRI

Teknologi menuntut layanan perbankan yang serba canggih, murah, mudah, dan aman. Dari sisi ini saja sudah memacu bank bank untuk besaing menyediakan layanan tersebut. Tekonologi sudah mulak harus di up-grade agar konsumen tidak lari ke bank-bank pesaing, dan sebisa mungkin teknologi ini bisa menarik konsumen baru untuk memakai produk tersebut.

Selain itu, tuntutan konsumen tentang produk perbankan juga semakin ketat. Bank harus menyediakan produk yang murah, bekualitas, dan benefit yang menarik.

Akhirnya kembali lagi bank harus bersaing meraih hati konsumen agar memakai produk-produknya serta mengintai ketat apa yang dilakukan pesaing untuk melakukan hal serupa.

Tantangan-tantangan ini tidak bisa dihindari dan memang sudah masanya untuk bersaing di era-persaingan ini. Hasil akhirnya adalah konsumen yang semakin diuntungkan dengan hal ini, karena perbankan akan mati-matian memberikan produk dengan kualitas terbaik dan dengan harga paling kompetitif.

The real battle is on the service quality
Entah berita baik atau buruk, ada sisi lain yang dilihat konsumen dari perbankan. Konsumen adalah manusia, bagaimana pun juga memerlukan perlakuan yang sebaik-baik-nya. Oleh karena itu, perbankan ternyata masih harus memberikan pelayanan terbaik selain dari sisi produk dan harga yang ditawarkan.

Sehingga produk murah belum tentu laku, dan produk mahal belum tentu sepi peminat. Semua karena pelayanan. Kembali lagi persaingan pelayanan menjadi konsen pelaku perbankan yang tidak bisa diganggu gugat.

ANCAMAN INDUSTRI KEUANGAN NON-BANK

Persaingan belum selesai sampai disitu. Industri keuangan non-bank juga menjadi persoalan serius dunia perbankan dalam menjalankan bisnisnya.

Munculnya Fintech dengan menawarkan produk serupa perbankan dengan proses yang lebih mudah dan cepat harus menjadi perhatian serius. Ternyata inilah dampak kemajuan teknologi yang kembali lagi selain menjadi peluang juga menjadi tantangan.

Perbankan harus lebih kreatif dan inovatif dalam hal penyaluran kreditnya agar di sisi lain kuantitas kredit tercapai besar, tetapi juga resiko yang tetap bisa dikendalikan dengan NPL yang rendah.

Selain munculnya Fintech, lembaga keuangan non-bank lain juga dalam tren akan diberikan keleluasaan menambah kegiatan bisnis lain serupa perbankan. Sehingga lama kelamaan produk bank yang selama ini hanya ada di bank, bisa diakses melalui lembaga keuangan non-bank juga, dengan kata lain, bank akan bertambah pesaingnya meskipun itu bukan perbankan.

BERGANTUNG PADA KONDISI EKONOMI

Perbankan sangat beperan strategis dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi di sisi lain juga sangat rentan pada gejolak ekonomi.

Menghimpun dana dan menyalurkan dana adalah dua bisnis utama bank, selain juga pada bisnis fee-based income. Fee based income perbankan bergantung pada teknologi yang dipakai bank dalam melayani nasabah, sementara dua sisanya sangat rentan dengan gejolak ekonomi.

Menghimpun dana dari masyarakat sangat tergantung dengan banyaknya uang yang dimiliki masyarakat dan suku bunga yang ditawarkan kepada masyaakat atas penempatan danannya di bank (bunga giro, tabungan, deposito). Sedangan kegiatan ini memiliki saingan yaitu instrumen investasi lain seperti surat berharga, saham, logam mulia, dan yang lainnya mungkin dalam valuta asing.

Oleh karena itu, suku bunga sendiri sebagai daya tarik untuk merayu masyarakat menempakan dana di bank sangat tergantung dengan perekonomian yang berjalan.

Satu lagi yaitu kredit yang sangat jelas pemintaannya sangat tergantung kondidi ekonomi dan dikombinasikan dengan suku bunga yang ditawarkan.

Seperti dalam kondisi ekonomi global saat ini yang melambat, turut serta dalam memperlambat pemintaan kredit. Target pertumbuhan kredit 2016 sebesar di atas 10% (yoy) masih belum bisa tercapai. Bahkan masih di kisaran 7-8 %.

Jadi banyak sekali pekerjaan rumah dunia perbankan yang harus diselesaikan dan bahkan mungkin tidak akan pernah ada habisnya. 

Setiap saat terjadi peubahan yang sangat cepat yang menuntut industri perbankan menyesuaikan dengan cepat, bahkan kalau bisa harus selangkah lebih maju agar tidak digilas perubahan-perubahan dalam lingkungan bisnisnya maupun tantangan dari luar.

Oleh : Heri Sugianto

Artikel menarik lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar